Saturday, 27 June 2015

JOGGING CINTA DI TAMAN HONDA



Hari yang cerah buat santai di kelas, karena semua ujian udah selesai dan tinggal menunggu hasil kelulusan. Memang siang itu cukup cerah, makanya guru olahraga gue sudah memberitahu dari kemarin kalau kita akan melaksanakan ujian praktik remedial di luar sekolah. Gue pikir ujian remedialnya cuma senam skj buat anak sd yang kita dipaksa untuk menghafalkannya setiap hari jumat pagi. Ternyata nggak, guru olahraga gue menyuruh kita semua berlari mengelilingi Taman Honda sebanyak 10 putaran, dan waktu yang dia berikan paling lambat adalah 10 menit. Iya guru olahraga gue emang udah agak gila.

Selain karena sekolah gue waktu itu nggak terlalu jauh dengan Taman Honda, alasan lainnya yaitu lapangan sekolah gue nggak memungkinkan untuk di pakai lari, ya sebenernya bisa aja sih, cuma kalo lari keliling 10 putaran di lapangan sekolah gue ya palingan cuma kayak 2 putaran di Taman Honda. Jangankan pegel, keringetan juga nggak. Begitu mendengar pengumuman peraturannya kayak begitu, kita semua udah lemes duluan. Bukannya pesimis atau gimana, YA EMANG NGGAK MUNGKIN.

Guru olahraga gue udah meniup pluit warna merahnya berkali-kali yang menandakan kita udah disuruh ganti baju dan turun ke lapangan sekolah lebih cepat. Di kelas gue, peraturan ganti baju saat jam pelajaran olahraga adalah; perempuan adalah pemegang kuasa nomor 1, jadi mereka berhak atas segala keputusan dan anak laki-laki adalah para budaknya. Setiap pelajaran olahraga, para perempuan langsung berdiri serempak dan menyuruh kami, anak laki-laki untuk segera keluar kelas dengan cara yang amat sangat tidak patut untuk dicontoh, misalnya saja, mereka pernah menyuruh (mengusir) kami dengan mendesuh seperti mengusir kucing, meneriaki kami maling celana dalam, sampai menyiram kami dengan air panas. Ya, kami hina sekali waktu sekolah.

Sialnya siang itu, sebagian anak perempuan yang berganti pakaian di dalam kelas sepertinya dengan segaja berlama-lama di dalam kelas. Sepertinya mereka sudah merencanakan ini semua; mereka berlama-lama mengganti pakaian di dalam kelas sehingga kami kehabisan waktu untuk berganti pakaian, lalu karena kehabisan waktu, kami di hukum tidak boleh bernapas selama jam pelajaran olahraga. Dan mereka pun tertawa jahat menandakan keberhasilan mereka mengerjai kami. Hhhmmmmm.....

Dan ternyata benar saja, setelah kami selesai mengganti pakaian, teman-teman beserta guru olahraga gue udah pergi duluan ke Taman Honda. Tapi gue nggak bener-bener menyesal, ternyata ada Bella dan satu orang temannya yang ternyata baru selesai mengganti pakaian olahraga di kamar mandi. Jadilah sebagai seorang gentlemen gue menyuruh teman-teman gue untuk menunggu Bella dan temannya menaruh pakaian seragamnya di kelas, dan berjalan bersama-sama ke Taman Honda.

Sepanjang perjalanan pun terasa seperti tidak ada beban kalau kami semua terlambat dan bersiap untuk di hukum. Sepertinya cinta yang rindu untuk berjalan beriringan memeluk gue
dan Bella ke suatu fase dimana kita berada di dalam ruangan kedap waktu, hal yang paling gue rindukan.

Gue beruntung punya temen sekolah kayak Furqon, Jundi dan Trisna, mereka menghibur demi apapun. Gue jadi punya bahan candaan di saat ada hening yang menjadi jeda dalam obrolan gue dan Bella. Hal yang paling gue rindukan juga.

Sesampainya di jogging track Taman Honda rupanya temen-temen yang lain udah mulai lari duluan. Gue beruntung karena kita semua nggak dihukum. Sebenernya nggak dihukum juga sama aja, karena menurut gue lari keliling Taman Honda 10 putaran dalam 10 menit juga sudah termasuk hukuman buat betis gue. Ya gue mulai berdoa dalam hati, mudah-mudahan betis gue nggak meledak. Tapi gue beruntung lagi, karena Bella pun berpikiran sama kayak gue. Ya seenggaknya kita akan bakalan berbagi kelelahan.

Bella dari dulu emang nggak pinter olahraga. Gue sih wajar-wajar aja kalo cewek itu nggak pinter olahraga, toh nggak semua cowok juga pinter olahraga. Jadi ya hasilnya udah bisa ditebak, dia hanya lari di 5 meter awal, selebihnya dia lebih memilih ngobrol sambil jalan sama temennya. Berbanding 360 derajat sama gue, ya gue kan pernah jadi kapten basket sekolah, otomatis gue hobi banget sama olahraga, dari lari pagi, sampe main catur sambil tinju. Dan udah bisa ditebak kan? Biarpun gue sempet ngos-ngosan, tapi gue pasti lari lebih jauh dan lebih semangat, ya gue cuma lari di..... 6 meter awal. Selebihnya gue nyariin Bella, mau gabung ngobrol sambil jalan.

Di tengah-tengah gue mencoba mengatur napas, gue melihat Bella di belakang gue sedang berjalan sendirian. Ini momen spesial buat gue, biarpun kejadiannya nggak terlalu lama, tapi kenangannya bakalan terus nempel di kepala gue. Itu terbukti kalau sampai sekarang gue masih inget dan mencoba mengabadikan ini sebagai suatu catatan singkat. Tapi ya sepertinya gue masih belum rela kalo gue melepaskan pelukan cinta yang rindu akan berjalan beriringan ini begitu saja. Gue udah nggak memperdulikan temannya Bella kemana dan kenapa dia berjalan sendirian. Dia melihat gue yang berada di depannya dengan setengah tertawa. Tidak lama kemudian, kami berjalan beriringan.

Semesta mendukung kita lagi. Dari mulai cuacanya yang tidak terlalu panas, sampai suasana Taman Honda saat itu yang sangat indah. Tidak seperti biasa, di atas kami banyak payung-payung warna-warni menggantung, ada sekitar 12 payung di tiap bloknya. Tanaman yang lebih terlihat rapih dan beraturan. Tempat duduk sampai tempat sampah yang di lukis sedemikian rupa.

‘Capek ya? Hahaha’

Gue membuka percakapan

‘Hahaha... Emang kamu nggak capek?’

Mungkin dia nggak ngeliat keringat yang mengucur di kepala gue udah segede biji jagung

‘Eehh.. Nggak kok... Hehehe... Udah yuk lanjut jalan aja..’

Sekali lagi kami berada di dalam ruangan kedap waktu. Kita udah nggak memperdulikan peraturan 10 putaran dalam 10 menit itu. Seperti dua orang yang sedang berbalas pantun, obrolan gue dan Bella tidak pernah terputus. Satu hal yang gue tau, gue udah lebih merasakan sulitnya untuk merelakan.

Sekitar 3 putaran kami lewati dengan tidak terasa. Sampai gue sadar kalo temennya Bella ternyata udah ada di belakang kami entah berapa lama. Gue berusaha ngasih tau Bella kalo temennya udah ada di belakang dan ngikutin kita sendirian. Sebenernya gue mau ngebiarin aja kita ngobrol terus sambil jalan sampe 10 putaran, tapi karena nggak enak sama temennya Bella, akhirnya gue dengan berat hati ninggalin dia dan temennya, dan berlari pelan seakan hati gue diiket dan susah buat dilepasin, tapi ya mau gimana lagi. Belum ada 10 langkah gue ninggalin Bella dan temennya, dia manggil gue keras seperti ada yang tertinggal.

‘LIF!’

Gue pun nengok, dan gue tau dia ingin mengucapkan sesuatu, tapi tertahan sama lidahnya, dan akhirnya dia cuma berkata

‘Hati-hati ya’

Wednesday, 10 June 2015

KONSEKUENSI ITU PASTI ADA, ATAU DALAM KATA LAIN, BERKORBAN DEMI KEBAHAGIAAN ORANG LAIN



Hari ini gue belajar banyak banget. Penantian dan banyaknya pengorbananan selama kurang lebih empat tahun telah terbayar lunas. Ibu gue baru saja melangsungkan akad nikah yang dilaksanakan tadi pagi (07-06-2015).

Rasanya pasti campur aduk, ada bahagia, ada juga yang menjadi korban dalam kebahagiaan.

Oke, biar gue jelasin sedikit.

Gue besar dalam keluarga yang kurang harmonis. Kedua orang tua gue bercerai pada saat akhir gue kelas tiga SMP, itulah salah satu alasan gue pidah dari Depok ke Jakarta untuk meneruskan pendidikan gue. Gue punya satu adik laki-laki yang saat mereka memutuskan untuk bercerai, berusia enam tahun, dan pada saat itu dia masih sekolah TK dan melanjutkan ke sekolah SD di Jakarta. Penyebab perceraiannya adalah masalah ekonomi, perselingkuhan yang udah bukan menjadi isu lagi, dan masih banyak lagi. Yang jelas gue tau saat itu adalah orang tua gue bakalan bercerai, kehidupan gue nggak akan normal.

Setelah bercerai, gue dan adik gue tinggal sama nyokap di rumah orang tua nya, atau di rumah kakek dan nenek gue. Nggak bener-bener lega karena gue pikir setelah bercerai nggak akan ada masalah-masalah lagi, ternyata gue salah. Semuanya udah terjadi, di dalam perceraian, anak akan menjadi korbannya, dan betul, gue dan adik gue menjadi korbannya.

Masalah ekonomi kayaknya belom selesai begitu aja. Dari mulai memilih sekolah swasta yang pas buat gue, Salah satu alasan nyokap gue nyuruh ikut seleksi buat masuk sekolah negeri adalah untuk meringankan biaya, karena biaya masuk sekolah negeri saat itu lebih ringan dari sekolah swasta. Tapi apa mau dikata, gue nggak lolos. Ya maklum aja, gue dari sekolah luar Jakarta, dan kapasitas anak murid baru dari luar Jakarta di tiap sekolah negeri cuma 5 orang. Gue agak malu sebenernya karena nggak lolos dan ngerepotin nyokap gue, di tambah lagi pasti akan ada pertengkaran gara-gara biaya masuk sekolah swasta itu cenderung mahal bagi nyokap dan bokap gue. Beruntung adik gue masuk SD negeri yang semua-muanya gratis, dari biaya masuk sampai spp. Beban biaya dan beban pikiran sedikit berkurang.

Bokap gue saat itu belum mempunyai pekerjaan yang jelas, yang ada di pikiran beliau saat itu adalah untuk menunda sekolah gue dulu satu tahun sampai ada uang untuk membiayai gue masuk sekolah. Pertengkaran terjadi lagi, nyokap gue jelas nggak setuju dengan apa yang bokap katakan, tapi beruntung gue punya keluarga yang masih berbaik hati. Keluarga dari nyokap gue akhirnya patungan untuk membiayai uang pendaftaran gue yang mencapai tiga juta rupiah. Gue bersyukur sekaligus malu hati karena udah dibantu sedemikian rupa, dari sini gue udah bisa ngebedain, mana yang baik, mana yang nggak baik buat gue.

Di waktu yang hampir bersamaan gue juga tau kalo tanpa persetujuan gue bokap udah punya istri lagi. Dia memutuskan untuk menikah siri nggak lama setelah bercerai dari nyokap gue. Lalu karena melakukan pernikahan siri, maka gue saat itu merasa kehilangan hak gue sebagai anak kandung. Gue nggak pernah tau atau lebih tepatnya nggak pernah di kasih tau kapan dan dengan siapa beliau menikah. Gue sengaja nggak pernah mau nanya apa-apa tentang perempuan yang gue disuruh bokap untuk memanggilnya dengan sebutan tante itu, dengan harapan kalo bokap bakalan ngasih tau gue suatu saat nanti. Tapi lagi-lagi itu cuma menjadi harapan gue. Sampai saat ini, tanpa pernah gue tau asal-usul istri bokap baru gue, sekarang bokap udah punya anak lagi.

Permasalahan yang cukup kompleks untuk anak di bawah dua puluh tahun seperti gue dan adik gue.

Sekarang nyokap udah nikah. Tapi bedanya beliau nikah secara resmi, gue pun ikut dilibatkan dalam semua prosesnya. Senang sekaligus sedih karena nyokap bakalan tinggal sama suami nya di bogor. Gue yakin nyokap dan suaminya mau tinggal se rumah sama gue dan adik gue. Tapi di keluarga besar gue, orang yang udah menikah, nggak boleh tinggal di rumah orang tuanya, selain itu suami nyokap gue memang udah nyiapin rumah buat nyokap gue. Nggak kenapa-kenapa sih, ya itung-itung belajar mandiri. Gue jadi inget dulu setelah lulus sekolah, gue mau kuliah di Bandung dan nge-kost deket kampus. Seperti anak-anak yang baru lulus lainnya, tujuan gue cuma biar bisa belajar jauh dari orang tua, belajar mandiri dan nggak ngerepotin lebih tepatnya. Tapi sebelum gue bilang ke nyokap, gue udah mikir panjang, enak sih tinggal sendiri, tapi pasti nanti gue bakalan repot banget, gue nggak punya saudara satu pun yang tinggal di Bandung, belum nanti gue juga mau nyari kerja part-time buat tambah-tambahan duit kuliah, ya syukur-syukur ada lebihnya buat gue jajan. Ternyata gue salah, justru jauh dari orang tua bakalan bikin orang tua gue tambah repot. Tapi sekarang akhirnya gue ngerasain juga tinggal jauh dari orang tua, tapi gue nggak sendiri, ada adik, kakek, dan tante gue.

Tapi tetep aja, jauh dari nyokap pasti bakalan nggak enak banget. Kesepian, gue pasti bakalan kangen banget di bangunin gara-gara kesiangan, nemenin nyokap masak, disuruh ke warung...

Ini adalah yang gue sebut konsekuensi itu pasti ada, atau dalam kata lain, berkorban demi kebahagiaan orang lain. Di dalam kasus ini, jelas gue yang menjadi korban, bokap nyokap udah nggak tinggal se rumah lagi sama gue. Sekarang anak mana yang nggak sedih nyokap bokap nya tinggal misah-misah? Ya mau nggak mau, gue harus nerima konsekuensi, gue juga tau, bokap nyokap gue juga pasti nerima konsekuensi yang sama kayak gue, nggak bisa ngeliat anaknya setiap hari karena udah nggak tinggal se rumah lagi.

Di setiap konsekuensi pasti ada pengorbanan, kita semua berkorban. Berkorban demi kebahagiaan masing-masing. Mungkin caranya memang berbeda-beda, tapi gue punya prinsip; siapapun pasangan baru nyokap dan bokap gue, sekalipun mereka udah punya anak, gue cuma punya tiga orang di hati gue; ayah, ibu, dan adik gue. nggak ada yang lain.

Thursday, 2 April 2015

INDOMI DOUBLE DATE



Beberapa hari setelah kita jadian, gue udah mulai memberanikan diri buat nganter Avta sampe depan rumah. Avta adalah mantan gue waktu SMK. dia orangnya cantik, baik, rajin menabung, dan sholehah banget. Saking sholehahnya, dia kalo lagi marah-marah suka ngemilin karpet masjid. Nggak kayak waktu masih PDKT, gue cuma berani nganter dia sampe depan pintu angkot. Tingkat kepercayaan diri gue semakin memuncak ketika tangan gue udah mulai liar. Iya, gue megang tangan dia untuk pertama kali. Namanya anak SMK, pegangan tangan rasanya masih canggung banget. Apalagi kita satu sekolah, apalagi kita beda kelas, apalagi kita beda kelamin (loh?).

Momen itu susah bikin behenti senyam-senyum sendiri. Sebelumnya gue udah bilang kalo gue mau nganter Avta sampe depan rumah, dan ternyata dia nggak keberatan. Yaudah, dia turun dari angkot di tempat biasa, gue juga ikut turun, kita bayar sendiri-sendiri, dan kita bersiap-siap untuk naik naga yang udah gue panasin. Jalanan saat itu lumayan rame karena hari udah menjelang sore. Kita cukup lama diam nungguin jalanan sepi, karena betis udah mulai kayak atlit lompat tinggi, gue memutuskan untuk mengambil inisiatif yang lumayan memacu adrenalin, gue memegang tangan dia, dengan gerakan setengah menarik, gue menuntun dia seperti nenek-nenek yang mau menyebrang jalan, gue memberikan isyarat kepada pengendara yang lewat saat itu kalo gue mau nyebrangin nenek-nenek. Dengan muka pemberani dan dada yang berapi-api, gue menuntun dia menyebrang. Kita sampai di seberang jalan, dan tangan kita saling melepaskan satu sama lain. Ada hening yang lumayan panjang, ada senyum simpul yang malu untuk terbaca.

Seragam putih-putih serasa berubah menjadi merah muda karena menahan malu. Gue memilih buat mengalihkan pembicaraan biar awkward momen ini nggak berlangsung lama. Sambil diiringi becanda, kita udah hampir sampai.

“Sampe sini aja, kak nganternya. Gapapa kok..”

Panggilan sayang dia ke gue saat itu emang ‘kak’. Iya, kakak.

“Hah? Sampe sini aja? Bener nih gapapa?”

“Iya..”

Dia mulai melangkahkan setengah kakinya

“Nanti pulangnya tau gak kak? Nih, dari sini lurus aja, nanti ada pertigaan belok kiri, deket kok.”

“Oh, iya tau kok. Lurus doang terus belok kiri kan? Hahaha iya tau lah..”

Kata gue, sambil menunjukan raut wajah bingung.
“Bener nih tau? Kalo nggak tau gapapa. Nanti aku anterin deh sampe depan gang..”

LAH INI GIMANA SIH? JADI MAIN ANTER-ANTERAN GINI.

“Iya kakak tau kok. Beneran deh, udah kamu pulang aja sana.”

“Yaudah deh, aku duluan ya kak. Daaa..”

Belum sempet gue mengucapkan ‘daaa..’ gue melihat ada yang aneh dari dia. Lebih tepatnya dari rok putihnya. Ada noda bercak merah tepat di bagian belakang rok putihnya. Gue nggak bener-bener tau itu apa, tapi gue rasa ada yang nggak beres.

“AVTA TUNGGU!”

Gue manggil dia sekenceng-kencengnya. Padahal dia baru jalan 2 meter dari gue.

“KENAPA KAK?! BIASA AJA KALE MANGGILNYA!”

“Ehehehe.. Iya sori-sori.. Eeh.. Umm.. Itu..”

“Itu apa? Kenapa? Ada apa sih?”

Gue nggak berani bilang langsung kalo ada sesuatu yang ‘bocor’. Jadinya gue cuma ngasih kode-kode atau lebih terlihat seperti sandi. Sandi morse ala anak pramuka. Dan sayangnya, yang bikin gue gregetan adalah dia nggak ngerti-ngerti. Sampe gue sikap lilin sambil bikin indomi juga dia masih belum ngerti.

Tapi untungnya, ikatan batin kita udah semakin bersatu. Dengan segala daya dan upaya akhirnya dia mengerti sandi morse absurd yang gue maksud. Gue melihat pipinya berubah warna menjadi merah muda dengan senyum ketir ketika dia sadar kalo gue ngeliat ada yang ‘bocor’ dari belakang rok putihnya.

“Hah?! Ya ampun! Duh.. Eeh.. hehe..”

Dengan sekejap kilat dia membalikkan badannya menjadi menghadap gue, dan segera menyuruh gue untuk pulang.

“Yaudah kakak pulang deh sana cepetan. Tau jalan pulangnya kan? Aku pulang duluan ya kak. Daaa...”

Dia berjalan setengah berlari menuju rumahnya. Tapi gue nggak langsung pulang. Gue diem dulu di tempat dan ngeliat dia masuk rumah sambil nahan ketawa. Sekarang pertanyaannya adalah, GUE PULANGNYA LEWAT MANA NIH?

Besoknya seperti biasa, datang ke sekolah dengan hati yang berbunga-bunga. Gue udah nggak mau ngebahas tragedi ‘bocor’ kemarin sore. Selain dengan alasan nggak enak, juga karena gue takut dia ngambek dan mulai ngemilin karpet masjid lagi. Gue lebih mengalihkan topik pembicaraan ke arah yang lebih serius. Iya kita ngebahas investasi dan saham, naik turunnya harga dollar, dan imbas dari tidak stabilnya harga bbm pada jumlah cabe rawit saat kita membeli gorengan.

Ada ajakan dari Avta yang cukup membuat adrenalin gue terpacu. Nggak seperti biasanya, abis gue mengantar dia pulang dengan mobil pribadi gue. Iya yang warnanya biru muda itu, ada nomornya 34. Avta bilang kalo temen-temennya mau main ke rumahnya dia besok abis pulang sekolah, dan dia ngajak gue mau ikut apa nggak. Kebetulan gue bilang ke Avta saat itu gue emang lagi nggak ada jadwal apa-apa pas pulang sekolah. Padahal gue nggak pernah ada jadwal apa-apa. Biar gaya aja. Singkat kata gue meng-iya kan ajakan dia, dan seperti sebelumnya, kita berpisah tangan di persimpangan jalan.

Di tempat biasa menungu angkot, sudah ada Dista dan Rahman. Teman satu angkatannya Avta. Dan setau gue, si Dista dan Rahman juga berpacaran. Kita menunggu angkot dengan syahdu. Perasaan gue mulai nggak enak.

Kita menghabiskan waktu di angkot dengan mengobrol santai. Bisingnya suara kendaraan yang mengaum kepanasan membuat kita berbicara semakin dekat, bahkan hampir berbisik keras. Nggak kerasa, kita udah hampir sampai. Gue udah menyiapkan uang 4000 rupiah untuk membayar ongkos angkot gue dan Avta. Sebelumnya emang gue selalu bayarin dia pas pulang naik angkot. Karena ada Dista dan Rahman, gue berusaha sedikit menunjukkan kalo gue gentlemen dengan bayarin ongkos angkot Avta di depan mereka berdua. Tadinya gue juga mau bayarin si Dista dan Rahman, tapi gue mikir ulang, besok gue makan pake apa.

Kita ber-empat udah sampe di depan rumahnya Avta. Dia tuan rumah yang baik, ngebukain pintu pager, nyuruh kita masuk, dan nge-bukain sepatu dan kaos kaki kita. Orang tua Avta nggak ada di rumah, yang ada cuma kakeknya. Avta nawarin gue, Dista dan Rahman mau makan apa, tadinya gue mau pesen Pizza Hut 2 ekstra keju, nasi padang pake rendang, sama sate ayam 30 tusuk. Tapi sebelum gue bilang, Avta udah mengusulkan ide lebih dulu. “Makan Indomi aja ya..”. Yaudah.

Sementara si Avta dan Dista sibuk bikin Indomi. Gue lebih memilih duduk di pojok sambil main hape dan nulis-nulis. Dan si Rahman asyik ngajak ngobrol kakeknya Avta. Indomi udah jadi, kita semua makan sambil ngobrol, untung nggak keselek. Gue bilang ke Avta kalo indomi buatan dia pasti bikinnya pake cinta, soalnya rasanya manis, semanis asmara dua orang yang sedang jatuh cinta. Padahal mah rasanya biasa aja.

Indomi udah habis, tapi entah kenapa gue mulai ngerasa nggak nyaman. Avta, Dista dan Rahman asyik ngobrol bertiga, sementara gue nggak nyambung sama sekali sama apa yang mereka omongin. Ya maklum aja, mereka ngomongin pelajaran, boyband korea, sampe ngomongin kejelekan orang. Dan gue ya tau sendiri, omongan gue nggak jauh-jauh dari investasi dan saham, naik turunnya harga dollar, dan imbas dari tidak stabilnya harga bbm pada jumlah cabe rawit saat kita membeli gorengan.

Akhirnya gue memutuskan untuk pulang lebih awal. Untungnya Avta nggak keberatan, gue izin pulang duluan sama Dista dan Rahman, mereka juga nggak keberatan. Avta mengantar gue sampe persimpangan jalan seperti biasanya. Dan gue nggak tau kalo bisa aja mereka bertiga ngomongin gue abis gue pulang.

Gue udah mulai mencium bau-bau perpisahan semenjak kejadian indomi double date itu. Entah kenapa, kita menjadi hambar. Sehambar indomi yang dibikin Avta waktu itu. Kita udah mulai jarang berkomunikasi lewat handphone atau pun mengobrol secara langsung, gue udah males ke kantin lagi bareng dia, ngobrol di depan kelas sambil sandaran di pager pembatas lantai 3. Berhari-hari gue nggak ngelakuin aktivitas itu bareng Avta. Dan ternyata bener aja firasat gue, dia minta putus dan dia minta berhenti berharap lebih dari dia yang sekarang. Awalnya gue nggak ngerti apa yang dia omongin, gue nyoba bales sms dari dia berkali-kali, dan dia cuma menjawab “Udah kak. Jangan ganggu aku lagi.” Gue nggak berhenti, gue nyoba telpon dia berkali-kali, nyambung tapi nggak diangkat. Gue langsung bangun dan pergi buru-buru ke rumahnya dia cuma buat minta penjelasan. Tapi ternyata semua terlambat, dia tetap diam dan nggak mau ngebuka pintu rumahnya buat gue.

Ternyata benar, saat kita kehilangan baru kita merasa bahwa saat memiliki itu harus menjaga sepenuh hati. Bukan hanya di awal. Tapi gue nggak sepenuhnya menyesal, toh gue masih bisa ngelihat dia di sekolah, walaupun dia selalu nyoba menghindar saat ketemu gue. Dan ada yang bikin gue tambah tidak menyesal, nggak lama setelah putus dari gue, Avta udah punya pacar lagi, teman seangkatannya. Ya gue cuma berharap, dia nggak diajak makan indomi di rumahnya Avta bareng Dista dan Rahman lagi.

Friday, 6 March 2015

TERUNTUK KAMU, YANG TELAH BERDUA

Aku terbiasa berharap. Telah banyak menggantungkan harapan padanya. Dia semangat yang nyata namun semu. Ada namun tak nampak. Dan terasa walau tak merasa.

Memang benar aku mencintainya, sungguh. Mungkin juga ada dia yang lebih kau cintai, tak apa. Bahagiamu adalah bahagiaku, tenang. Toh, aku hanya lelaki yang terbiasa berharap, walau aku tau harapan itu bisa kau lemahkan begitu saja.

Bukannya aku takut karena kamu bukan bahagia karena aku, tapi aku takut kalau dia tidak bisa bahagiakanmu sepertiku. Biarpun aku tak pernah tau kalau dia bisa membuatmu lebih bahagia daripada aku. Dan akhirnya aku hanya bisa berharap aku ada di posisi dia dihatimu, bukan aku dihatimu.

Aku mungkin bisa jalani hari setelah ini dengan membekap luka dengan senyuman, tanpa pernah tau kalau rasa sakitnya membuatku teringat akan sapaanmu. Aku hanya lelaki yang penuh harap, bahwa suatu saat aku bisa buktikan kalau aku tidak punya salah apa-apa, tidak pantas untukmu pergi dengannya tanpa sepengetahuanku. Aku pun berharap aku berhak tau dan mempunyai kesempatan bertanya dan mendengarkan penjelasanmu, berapapun lamanya, seberapapun sakitnya, sesusah apapun aku mencoba mengikhlaskan. Setidaknya rasa penasaran ini hilang dan kita bisa hidup tanpa ada rasa bersalah.

Dia memang terbaik untukmu, aku percaya padamu, pilihanmu adalah bahagiamu, aku harap aku pantas untuk ikut bahagia walaupun bukan aku yang kau pilih. Apapun alasanmu untuk menolak bahkan menjauhkanku, aku akan tetap berdiri dengan kepala tegak, melapangkan dada, dan menjabat erat tangan kalian berdua seraya mengucapkan semoga kalian berdua bahagia. Dan maaf jika selama perjalanan aku telah berdiri menghalangi peluk erat kalian dengan tidak tau diri.