Aku terbiasa berharap. Telah banyak menggantungkan harapan padanya. Dia semangat yang nyata namun semu. Ada namun tak nampak. Dan terasa walau tak merasa.
Memang benar aku mencintainya, sungguh. Mungkin juga ada dia yang lebih kau cintai, tak apa. Bahagiamu adalah bahagiaku, tenang. Toh, aku hanya lelaki yang terbiasa berharap, walau aku tau harapan itu bisa kau lemahkan begitu saja.
Bukannya aku takut karena kamu bukan bahagia karena aku, tapi aku takut kalau dia tidak bisa bahagiakanmu sepertiku. Biarpun aku tak pernah tau kalau dia bisa membuatmu lebih bahagia daripada aku. Dan akhirnya aku hanya bisa berharap aku ada di posisi dia dihatimu, bukan aku dihatimu.
Aku mungkin bisa jalani hari setelah ini dengan membekap luka dengan senyuman, tanpa pernah tau kalau rasa sakitnya membuatku teringat akan sapaanmu. Aku hanya lelaki yang penuh harap, bahwa suatu saat aku bisa buktikan kalau aku tidak punya salah apa-apa, tidak pantas untukmu pergi dengannya tanpa sepengetahuanku. Aku pun berharap aku berhak tau dan mempunyai kesempatan bertanya dan mendengarkan penjelasanmu, berapapun lamanya, seberapapun sakitnya, sesusah apapun aku mencoba mengikhlaskan. Setidaknya rasa penasaran ini hilang dan kita bisa hidup tanpa ada rasa bersalah.
Dia memang terbaik untukmu, aku percaya padamu, pilihanmu adalah bahagiamu, aku harap aku pantas untuk ikut bahagia walaupun bukan aku yang kau pilih. Apapun alasanmu untuk menolak bahkan menjauhkanku, aku akan tetap berdiri dengan kepala tegak, melapangkan dada, dan menjabat erat tangan kalian berdua seraya mengucapkan semoga kalian berdua bahagia. Dan maaf jika selama perjalanan aku telah berdiri menghalangi peluk erat kalian dengan tidak tau diri.
Friday, 6 March 2015
Friday, 13 February 2015
BERTEMU IBU GURU
Dari
dulu gue yakin kalo kita akan menggapai impian terdekat kita dalam waktu dekat.
Dan ternyata perjalanan waktu yang tidak terlalu lama membawa kita berada di
posisi yang kita mimpikan bersama. Gue masih ingat betul bagaimana dia tidak
menginginkan untuk bekerja di kantoran samasekali, gue pun begitu. Dia lebih
memilih menjadi guru TK karena memang dia senang sekali dengan anak-anak. Dan
tidak perlu waktu lama saat itu gue berkeyakinan kalau dia pasti akan berada di
posisi yang dia inginkan. Gue yang saat itu meng-iya kan berkata dalam hati
kalau semuanya akan terjadi. Seperti doa yang terkabulkan, dia kini telah
menjelma menjadi pengajar untuk anak-anak di salah satu tempat penitipan anak
di kawasan Jakarta Selatan.
Bersamaan
dengan kita yang merajut mimpi di tengah hangatnya percakapan, gue bermimpi
suatu saat nanti bertemu penulis idola gue. Mungkin hanya sekedar meminta foto
dan tanda tangan bisa membuat gue menjadi salah satu orang paling bahagia di
dunia ini. Dan ternyata Tuhan memberikan jalan yang tidak akan gue lupakan.
Meet & Greet sekaligus peluncuran buku terbaru dari Raditya Dika, salah
satu penulis idola gue yang berjudul Koala Kumal menjadi jalan yang nggak akan
gue lewatin begitu saja. Tidak perlu waktu lama dan berpikir dua kali buat gue
agar bisa melihat secara langsung dengan mata kepala gue sendiri, berfoto
bersama, dan meminta tanda tangan penulis idola gue. Seperti doa yang
terkabulkan kembali, gue sudah berada di posisi yang gue impikan.
Waktu
seakan berjalan ditempat. Gue mulai bingung harus mulai dari mana lagi. Impian
terdekat sudah terlaksana tidak terasa, dan dia tetap menjadi yang terakhir
sebelum memulai kehidupan baru. Tapi untuk itu rasanya masih terlalu lama atau
gue yang berpikiran terlalu cepat. Maka dari itu langkah-langkah kecil harus
gue lakukan sejak dini. Maksimalkan waktu kuliah dan mencari pekerjaan dari
sekarang. Dan selebihnya bersosialisasi dengan teman baru dan teman lama, guna
membangun koneksi yang akan sangat berguna untuk kedepannya.
Dari
sisi lain gue berusaha mewujudkan rencana-rencana yang menjadi ‘peta’ untuk
jalan gue kedepannya. Namun gue punya riwayat buruk kalo gue udah mulai nyusun
rencana. Yang paling dekat dan yang paling gue nantikan adalah saat Bertemu Ibu
Guru.
Gue
menyebut ini sebagai petualangan kecil-kecilan. Karena cuma bermodalkan uang
nggak sampe 50 ribu, dan Google Maps. Gue
emang udah nyari-nyari alamat tempat dia ngajar di google, dan ketemu lah
beberapa alamat yang nggak terlalu jauh dari rumah gue. Rencana yang pertama
adalah gue nyari sendiri dan gue sengaja nggak bilang apa-apa ke dia. Tujuannya
ya biar bikin surprise lucu gitu, atau paling nggak gue gak malu-maluin kalo
ketauan nyasar.
Perjalanan
gue mulai di hari Jumat pukul 15.30. Gue naik metromini dan kelewatan turun di
alamat yang udah gue dapetin. Google Maps juga menunjukkan kalo gue udah
sedikit lagi sampai tujuan. Namun sial pertama yang gue dapetin adalah pas gue
nelusurin jalan, sinyal di hape gue hilang entah kemana, gue udah hampir
frustasi karena udah jalan puluah meter tapi jalan yang gue cari nggak
ketemu-ketemu. Gue udah merasa kayak Ayu Tingting versi laki-laki yang lagi
nyari alamat palsu.
Awan
udah mulai gelap, betis udah mau meledak. Gue memutuskan untuk pulang dan
ninggalin apa yang udah gue cari dan ngelanjutin petualangan nggak jelas ini
minggu depan. Gara-gara sinyal petualangan gue terhambat. Mungkin gue harus
bawa peta dan ngajak dora buat nemenin gue nyari alamat. Dan gue juga harus
mastiin kalo Ayu Tingting nggak ngikutin gue dari belakang.
Sampai
dirumah gue masih inget jalan apa yang gue lewatin tadi, gue nge-cek Google
Maps lagi dan ternyata jarak gue dan tempat dia ngajar cuma berjarak 3 meter.
Iya 3 meter doang! Gue agak nyesel karena nggak ngelanjutin jalan dan memilih
buat pulang. Tapi yaudahlah, masih ada minggu depan. Dan mudah-mudahan rencana
gue berhasil tanpa hambatan.
Beberapa
hari kemudian gue nerima whatsapp
dari dia berupa gambar yang isinya nama dan alamat lengkap tempat dia ngajar. Di
situ ada 3 alamat dan gue masih inget kalo dia ditempatin di satu tempat yang
ternyata bukan alamat yang mau gue samperin kemarin. Saat itu juga gue buka
Google Maps dan nyari jalan mana yang paling deket dengan tempat dia ngajar,
dan gue memilih buat naik kereta dan berjalan kaki karena tempatnya nggak jauh
dari stasiun kereta. Gue semangat lagi dan nggak sabar buat hari Jumat depan.
Hari
Jumat tiba. Untuk menghindari pulang lewat maghrib, gue jalan lebih awal. Pukul
14.00 gue udah sampe stasiun Manggarai. Suasana stasiun cukup ramai karena
sedang ada penggalian dan pembangunan rel dan peron baru. Kali ini gue nggak
terlalu tergesa-gesa karena udah yakin kalo gue bakal nyampe di tempat dia
ngajar. Gerimis menemani gue saat turun dari kereta dan mau keluar dari stasiun.
Tapi itu nggak terlalu gue hiraukan karena pikir gue bisa neduh di tempat dia
ngajar sambil ngobrol-ngobrol lucu.
Sial
ke dua yang gue dapetin, ternyata gue masih juga salah jalan. Harusnya tinggal
nyebrang rel kereta dan belok kiri, gue malah ke arah belakang mall dan belok
kanan. Jadilah gue balik lagi dan menyusuri jalan yang udah dikasih tau sama
Google Maps.
Gerimis
mulai besar atau bisa disebut hujan ringan masih jatuh di atas kepala gue. Tapi
demi apa yang udah gue jalanin, gue nggak akan nyerah. Gue terus jalan dan
megangin hape gue supaya nggak salah jalan lagi. Tibalah gue di jalan yang
dimaksud, gue berjalan perlahan supaya nggak kelewatan. Dan ternyata gue udah
sampai, betis gue mungkin nggak akan meledak kayak minggu kemarin, tapi sekarang
jantung gue yang mau meledak.
Keringet
dingin campur air hujan bersatu dari ujung kepala sampe ujung kaki. Gue gemeteran
bukan karena nggak tau mau ngomong apa, tapi karena gue belom makan dari rumah.
Gue juga masih belum bilang kalo gue mau ke tempat dia ngajar sekarang. Jadilah
gue membeli Capcin alias Cappucino pake Mecin di deket sana. Tapi serius
cappucino yang gue beli rasanya emang agak asin, entah lidah gue yang kelu apa
cappucino nya kecampur sama keringet gue masih menjadi misteri.
Gue
mengeluarkan hape dan membuka BBM. Mencari nama dia dan langsung bertanya apakah
dia ngajar atau nggak hari ini. Dan sial ke tiga yang gue dapetin, ternyata dia
nggak ngajar. Dia melanjutkan pesan yang sudah terkirim dan berkata bahwa dia
lagi sakit, entah apa penyakitnya tapi dia nggak tau gimana sakitnya perasaan
gue, pengorbanan gue, dan asinnya lidah gue karena abis minum cappucino pake
mecin. Tadinya gue nggak mau bilang kalo gue udah ada di depan tempat dia
ngajar, tapi gue terpaksa ngelakuin ini karena terlanjur kecewa. Gue foto
tembok depan tempat dia ngajar dan gue kirimin via BBM sebagai balasan dari
pesan yang dia kirim ke gue, dan gue tambahkan dengan nada bercanda kalo gue
abis dari sini.
Lalu
dia membalas dengan nada heran dan bertanya gue ngapain disana, lalu gue jawab
gue kebetulan lewat aja. Padahal dia nggak tau kalo semuanya udah gue rencanain
dan nggak mungkin gue nggak sengaja lewat dengan niat sebesar itu.
Akhirnya
gue berjalan ke stasiun dengan tergulai lemas. Gue udah nggak peduli sama hujan
yang makin lama makin bisa bikin gue basah kuyup sampe rumah. Gue membeli saldo
tiket untuk ke stasiun Manggarai dan membuang cappucino gue di depan gerbang
stasiun. Sedotan terakhir bikin lidah gue mati rasa, udah terlanjur malas untuk
membedakan mana rasa asin dan rasa manis, karena yang gue rasain saat itu cuma
satu, rasa kecewa.
Sambil
menunggu kereta, gue membuka hape kembali, mematikan GPS, memasang headset dan
memeriksa beberapa pesan masuk di BBM gue. Sial ke empat yang gue dapetin yaitu
ternyata tempat yang gue datengin itu kata dia adalah kantor pusatnya, bukan
tempat dia ngajar. Dia sempet beberapa kali dioper disitu, tapi dia lebih
sering ditempatin di salah satu alamat yang ada di gambar whatsapp yang dia kasih ke gue kemarin. Dan bodohnya, gue nggak
kepikiran samasekali buat nyari alamat itu. Hell
Yeah!
Kereta
datang dan bikin lamunan gue buyar. Suasana kereta lumayan sepi jadi gue bisa
duduk dan senderan sambil dengerin lagu. Buat ngilangin sedikit kecewa gue
memutuskan buat nggak turun dulu di Manggarai, gue tetep di kereta sampai stasiun
Kota karena kereta akan balik lagi ke stasiun Bogor. Di depan gue, ada dua
orang yang lagi pacaran lagi main bisik-bisikan sambil ketawa-ketawa dan
memberikan tatapan sinis ke gue. Gue pikir lengkap sudah penderitaan gue hari
ini. Akhirnya gue pindah, dan duduk dengan tenang di pojok bangku, kereta sudah
sampai stasiun Kota, dan bersiap kembali menuju stasiun Bogor.
Karena
hari itu hari Jumat dan jam-jam nya orang pulang kantor, beberapa stasiun dari
stasiun Kota kereta sudah mulai penuh sesak. Dan ternyata belum selesai, sial
ke lima yang gue dapetin adalah pada saat gue mau turun di stasiun Manggarai,
ada banyak sekali manusia yang mau masuk dari pintu gerbong tempat gue mau
keluar, ditambah lagi ada bapak-bapak kampret berbadan besar yang ngalangin gue
pas mau keluar kereta. Jadilah gue terdorong lagi masuk ke dalam kereta dan
terbawa sampai stasiun Pasar Minggu Baru.
Di
stasiun Pasar Minggu Baru akhirnya gue berhasil keluar dari dempetan dan
halangan bapak-bapak kampret berbadan besar itu. Gue turun dan berpindah rel ke
arah stasiun Manggarai, dan pulang lewat manghrib tidak bisa gue hindari. Sampai
di rumah bukan hanya dengan pakaian yang lepek, tapi juga dengan hati yang
lepek.
Udah
2 minggu hari Jumat sore terlewat begitu saja. Gue lebih memilih di rumah
daripada melanjutkan petualangan nggak jelas itu. Sampai tadi pagi ini gue
masih menanyakan apakah dia udah mulai mengajar kembali apa belum, dan dia
berkata kalo dia masih harus bulak-balik ke lab untuk control. Bukannya berpikiran
negatif, tapi semoga dia benar-benar sakit, bukan menghindar dan tidak mau
bertemu gue.
Dan
petualangan Bertemu Ibu Guru tidak akan pernah terjadi. Lantas apakah gue
menyerah? Iya, mungkin untuk saat ini. Karena pada akhirnya gue cuma punya 2
pilihan, menunggu undangan datang ke rumah, atau menjemput yang masih di
rahasiakan. Dan pilihan gue adalah, tidak merencanakan semuanya.
Monday, 12 January 2015
SATU TAHUN YANG LALU
Satu
tahun yang lalu, ada seorang manusia mulai memberanikan diri buat membuat
‘sesuatu’. Satu tahun yang lalu, sebagian isi otak nya dibedah, menyusunnya
kembali, dan menghiasnya agar bisa ditertawakan.
Satu
tahun yang lalu, seorang anak kelas 3 SMK mempunyai impian yang bahkan ia tak
tau bagaimana harus memulainya, meraba perlahan, dan akhirnya menyerah begitu
saja. Satu tahun yang lalu, ia mempunyai cinta yang luar biasa, seorang pemikir
keras yang akhirnya menemukan jalan keluar agar segala kenangan yang telah
dilewati tidak mudah dilupakan begitu saja.
Satu
tahun yang lalu, ia tidak tahu apa-apa, bahkan perasaannya sendiri pun ia tidak
mengetahuinya. Satu tahun yang lalu, ia bersedia menceritakan perasaannya,
lewat tulisan singkat ia bercerita bahwa ada seorang perempuan yang telah
membuat ia ketergantungan. Satu tahun yang lalu, catatan Cinta Sandwich Isi
Tuna terbentuk, dan Cinta Sandwich Isi Tuna menjadi awal dari catatan-catatan berikutnya.
---
Nggak
kerasa, udah satu tahun gue nulis catatan Cinta Sandwich Isi Tuna. Nggak ada
basic samasekali buat nulis catatan se-absurd itu. Background nulis nggak ada,
cuma modal seneng baca beberapa buku doang. Ditambah sama niat gimana caranya
biar nggak gampang dilupain.
Tujuan
gue buat nulis catatan ini juga buat sebagai pengingat, kalo hari ini, satu
tahun yang lalu pernah ada badai di pikiran gue, tiap malam bergelut sama
kata-kata, dan akhirnya menulis sejadi-jadinya. Gue juga nggak tau pasti
bakalan ada peringatan semacam ini apa nggak saat catatan-catatan setelah Cinta
Sandwich Isi Tuna berada di tanggal satu tahun pembuatannya.
Sebenernya
catetan gue itu nggak ada manfaatnya samasekali. Cuma kejadian nyata yang gue
buat jadi lucu doang. Motivasi? Nggak ada, gue nggak pinter bikin seseorang
menjadi termotivasi. Bahkan untuk memotivasi diri sendiri buat bangun pagi aja
susahnya setengah mati. Quotes? Nggak ada juga, gue nggak terlalu suka quotes.
Kalimat terakhir yang sengaja gue sisipin itu murni spontan terlintas dipikiran
gue, pokoknya yang berhubungan sama tulisan sama perasaan gue aja. Boro-boro
mau copy-paste :p
Tapi
ada alasan lain dibalik gue merayakan satu tahunnya Cinta Sandwich Isi Tuna
ini. Nggak melulu soal self goal atau kepuasan pribadi, memang harus gue akui
ini catatan paling spesial dan paling berkesan. Setiap kalimatnya istimewa
karena pas gue bikin gue juga ketawa-ketawa sendiri. Bukan karena saking
absurdnya, tapi lo harus percaya kejadian aslinya jauh lebih lucu dari yang gue
tulis.
Pada
akhirnya gue harus berterima kasih, terutama kepada pihak ke dua yang udah
menjadi inspirasi sekaligus menyetujui catatan Cinta Sandwich Isi Tuna ini
tanpa harus gue meminta izin :p
Oh
iya, sebenernya gue udah bikin versi buku nya lho. Judulnya sama, tapi ada
sedikit perubahan dan cerita baru yang gue tambahkan, dan baru terkumpul 42
halaman
Jadi ceritanya suatu hari gue browsing dan nemu pengumuman
lomba menulis naskah komedi remaja yang diadain oleh salah satu penerbit
terkenal. Banyak penulis favorit gue yang bukunya diterbitin sama penerbit itu.
Tapi karena satu dan lain hal akhirnya gue ngebatalin niat gue. Dan baru kali
ini sejak terakhir gue nulis naskah lomba, gue nulis di blog lagi.
Pokoknya
tanggal ini spesial buat gue, suatu kehormatan kalo lo baca Cinta Sandwich Isi
Tuna dan lo bisa ketawa sama kayak pada saat gue bikin catatan itu.
Monday, 27 October 2014
ANOTHER FAULT IN OUR RELATIONSHIP
Sudah tiga bulan belakangan gue nggak
bertemu secara langsung dengan dia. Setelah malam perpisahan itu. Setelah gue
melihat dia akrab sekali berfoto dengan cowok lain. Gue masih inget waktu itu
gue menantang diri gue untuk Stand up comedy di depan teman-teman. Memang saat
itu gue akui tidak berjalan lancar 100%, namun ada kepuasan tersendiri dimana
gue bisa membawakan materi yang menuntut untuk dibawakan secara matang dan
sempurna. Alhasil gue berhasil menaker diri gue seperti apa dimata teman-teman.
Namun ada satu yang tidak bisa ditaker, rasa kecewa gue.
Setelah acara selesai, gue langsung
bergegas menuju kamar, gue udah enggan menyapa atau bahkan melihat dia lebih
lama lagi. Selain itu gue juga gak kuat sama hawa yang terlalu dingin di puncak
(sekolah gue melakukan perpisahan di puncak dan menyewa vila selama 2 hari).
Nggak ada yang lebih dingin dari hawa saat malem di puncak, kecuali sikap dia
belakangan ini ke gue.
Ada ajakan yang menurut gue cukup gila
dari temen gue. Dia berkata:
“Woi lif! Jangan tidur dulu. Berenang
dulu lah.. biar enjoy...”
“ENJOY MATA LU!!”
“Yaelah.. aernya kaga dingin kalo lo
udah nyebur.. percaya deh sama gue.”
Kata dia meyakinkan gue.
Tapi gue tetep tidak yakin dengan apa
yang dia katakan.
“Emang sih pas nyebur kaga dingin. Tapi
pas naik pasti dinginnya 2 kali lipat.”
“Ah payah lo..”
Kali ini gue coba nggak ngeladenin
ocehan temen gue. Gue lebih memilih untuk menarik selimut dan men-cebur-kan
diri ke dalam alam bawah sadar. Gue pikir karena udah terlalu lelah setelah
seharian tidak bertemu kasur akan cepat membuat gue tidur. Tapi ternyata
enggak, mata gue masih menerawang ke langit-langit kamar, entah apa yang gue
pikirkan, yang jelas hawa yang terlalu dingin ini bikin gue tambah susah tidur.
Gue ambil hp, membuka beberapa catatan penting yang pernah gue tulis dalam
keadaan apapun, dan gue memutuskan untuk menuliskan apa aja yang terjadi hari
ini, di dalam catatan baru.
Setelah selesai menulis catatan, gue
mulai ngerasa ada yang kurang. Yaitu dia. Gue lupa mengucap kata maaf karena
ada beberapa materi Stand up gue yang menyinggung kelakuan dia. Mungkin bukan
cuma kelakuan, tapi juga perasaan.
“Maaf ya, tadi cuma bercanda. Hehe.”
(kalo di sms kata ‘hehe’ itu penting
sekali. Selain untuk tidak terkesan sombong, juga biar bisa memberikan kesan
ketawa-unyu aja gitu. Hehe.)
Sekitar 15 menit gue tunggu akhirnya dia
membalas. Dan balasan dari dia yang gak pernah gue lupa sampe sekarang.
“hehehehe”
Kampret.
Setelah tau jawabannya cuma begitu, gue
lebih memilih untuk tidur dan nggak ngeladenin lagi sms yang dia kirimkan.
25 menit kemudian HP gue berbunyi lagi.
“Iyaaaaaa”
Karena waktu itu udah pukul 00.30 pagi,
gue udah males ngebales sms dari dia yang menurut gue udah nggak
penting-penting amat. Udah kelewat bete, percuma juga gue bales. Mendingan juga
gue ngelanjutin tidur.
Besoknya, ke-bete-an gue masih
berlanjut. Gue pikir awalnya dengan gue berani maju di depan dan Stand Up
Comedy, dia bakal tambah atau seenggaknya berpikir dua kali buat nggak ngejauh
dari gue. Namun nyatanya nggak. Berbanding terbalik 180 derajat. Dia malah
tambah ngejauh dari gue. Lalu, apaka gue nyesel? Nggak. Nggak sama sekali.
Justru gue lega. Gue udah bisa mutusin sendiri, kalo dia emang udah nggak ada
rasa sama gue.
Perjalanan pulang dari villa tempat gue
nginep gue habisin dengan diam berpikir di dekat jendela. Entah apa yang ada
dipikiran gue. Yang jelas, gue udah disadarkan secara tidak langsung. Dia
seperti ingin menampar, tapi karena nggak enak, dia nyuruh temennya buat nampar
gue. Menurut gue itu lebih sakit daripada ditampar langsung. Dan anehnya, gue
nggak bisa ngebales. Gue cuma diam, kaget karena nggak nyangka. Mungkin gue
emang belum siap, tapi dengan tamparan ini, semoga menjadi bekal yang cukup,
buat nggak jadi orang yang manja lagi, nggak semua apa yang gue lakuin harus
ada dia. Kalo dia bisa, kenapa gue nggak?
Tiga bulan gue habisin dengan
menyibukkan diri sendiri. Dari mulai ikut SBMPTN, ngelamar kerja sana-sini,
sampe ikut casting jadi musuhnya Ultramen. Dan udah hasilnya udah bisa diduga,
nggak ada yang diterima. Sekalinya ada, gue diterima jadi bintang iklan shampo.
Tapi bukan jadi orang yang keramas bahagia banget, tapi jadi botolnya.
Bis yang kami tumpangi berhenti di salah
satu tempat perbelanjaan yang mengatasnamakan susu. Segala yang dijual disana
mengandung susu. Mulai dari susu sapi murni, makanan olahan yang berbahan dasar
susu sapi, sampai ekstrak kotoran sapi. Gue yang nggak berniat berbelanja dan
hanya ingin buang air kecil, turun dari bis bersama beberapa orang teman. Niat
gue hampir batal karena gue hampir salah masuk kamar mandi. Bukan cuma itu, di
depan kamar mandi udah ada dia yang berdiri seperti security. Gue kaget
karena hampir menabrak dia, agak seneng sebenernya, coba aja gue nggak
buru-buru sadar dan nabrak beneran sampe jatuh, pasti udah kayak di ftv tuh.
Karena malu gue hanya senyum dan dia
membalas dengan senyumannya yang sangat sulit gue lupakan. Sebenernya bisa aja
gue ngajak ngobrol dia sambil nungguin kamar mandi yang penuhnya kayak lagi
ngantri beli iPhone 6 seharga 5 ribu rupiah. Tapi gue kembali mengurungkan niat
gue karena udah terlanjur kecewa, dan yang gue liat juga dia udah nggak mau
lagi gue ajak ngobrol.
Seperti orang-orang yang selayaknya lagi
galau, gue pun nangis sambil kencing di urinoir.
Sepanjang air kencing gue keluar, sepanjang itu juga air mata gue keluar. Karena
gue udah selesai kencing, gue mau ngelakuin punchline
nangis biar puas. Gue teriak sekenceng-kencengnya. Bukan cuma biar nggak
inget-inget lagi kejadian hari ini, tapi juga karena titit gue kejepit
resleting.
Gue keluar dari kamar mandi. Untungnya
titit gue nggak kenapa-kenapa. Mata gue melepaskan pandangan ke seluruh
ruangan, mencari dia yang gue kira udah keluar dair kamar mandi. Ternyata emang
mungkin dia udah keluar dan nggak nungguin gue. Lagi pipis di kamar mandi aja
ditinggalin, apalagi nanti udah lulus dan susah ketemu. Tadi niatnya nggak
pengen belanja apa-apa dan langsung ke bis dan dengerin lagu metal
sekenceng-kencengnya. Tapi entah kenapa kaki gue malah menuju tempat olahan
keripik dari susu sapi. Jadilah gue belanja 3 kantong keripik, 2 botol susu
sapi, dan 1 orang kasir untuk dibawa pulang. Uang habis, hati pun terkikis.
Bis kami berjalan perlahan menuju
Jakarta. Temen-temen gue sibuk bercanda dan ngobrol, sementara gue cuma diem
dipinggir jendela sambil membayangkan apa aja yang udah gue lakuin bareng dia.
Seakan semua berputar kembali, gue kayak ada di mesin waktu, melihat jelas
senyum canda ngakaknya dia karena kelakuan gue, melihat dia menangis perlahan
dan sembunyi dibalik rasa bahagia yang dibuat-buat. Dan sayangnya semua itu
sudah terlewati. Gue udah nggak bisa ngelihat semuanya lagi sekarang. Ada
banyak tanda tanya dikepala gue, dan mereka akan terus penasaran jika tidak
menemukan jawabannya. Gue kini cuma bisa berdoa, semoga dia bisa terus bahagia
walau tanpa gue, semoga dia bisa temukan orang yang mencintai dia setulus gue,
dan gue harap dia terus berjalan ke depan dan nggak nengok-nengok lagi ke
belakang cuma buat ngeliat gue. Mungkin kita emang udah harus pisah sekarang,
udah nggak ada lagi yang bisa dipertahanin. Gue juga mau begitu, terus berjalan
ke depan, nggak ngeliat ke belakang lagi. Siapa tau kita bertemu lagi di
pertengahan, perempatan, atau bahkan di ujung jalan. Satu yang gue percaya, Karena di dalam kaki-kaki yang menguatkan,
selalu ada doa-doa yang mengaitkan.
Subscribe to:
Posts (Atom)
.jpg)