Friday, 6 March 2015

TERUNTUK KAMU, YANG TELAH BERDUA

Aku terbiasa berharap. Telah banyak menggantungkan harapan padanya. Dia semangat yang nyata namun semu. Ada namun tak nampak. Dan terasa walau tak merasa.

Memang benar aku mencintainya, sungguh. Mungkin juga ada dia yang lebih kau cintai, tak apa. Bahagiamu adalah bahagiaku, tenang. Toh, aku hanya lelaki yang terbiasa berharap, walau aku tau harapan itu bisa kau lemahkan begitu saja.

Bukannya aku takut karena kamu bukan bahagia karena aku, tapi aku takut kalau dia tidak bisa bahagiakanmu sepertiku. Biarpun aku tak pernah tau kalau dia bisa membuatmu lebih bahagia daripada aku. Dan akhirnya aku hanya bisa berharap aku ada di posisi dia dihatimu, bukan aku dihatimu.

Aku mungkin bisa jalani hari setelah ini dengan membekap luka dengan senyuman, tanpa pernah tau kalau rasa sakitnya membuatku teringat akan sapaanmu. Aku hanya lelaki yang penuh harap, bahwa suatu saat aku bisa buktikan kalau aku tidak punya salah apa-apa, tidak pantas untukmu pergi dengannya tanpa sepengetahuanku. Aku pun berharap aku berhak tau dan mempunyai kesempatan bertanya dan mendengarkan penjelasanmu, berapapun lamanya, seberapapun sakitnya, sesusah apapun aku mencoba mengikhlaskan. Setidaknya rasa penasaran ini hilang dan kita bisa hidup tanpa ada rasa bersalah.

Dia memang terbaik untukmu, aku percaya padamu, pilihanmu adalah bahagiamu, aku harap aku pantas untuk ikut bahagia walaupun bukan aku yang kau pilih. Apapun alasanmu untuk menolak bahkan menjauhkanku, aku akan tetap berdiri dengan kepala tegak, melapangkan dada, dan menjabat erat tangan kalian berdua seraya mengucapkan semoga kalian berdua bahagia. Dan maaf jika selama perjalanan aku telah berdiri menghalangi peluk erat kalian dengan tidak tau diri.

Friday, 13 February 2015

BERTEMU IBU GURU



Dari dulu gue yakin kalo kita akan menggapai impian terdekat kita dalam waktu dekat. Dan ternyata perjalanan waktu yang tidak terlalu lama membawa kita berada di posisi yang kita mimpikan bersama. Gue masih ingat betul bagaimana dia tidak menginginkan untuk bekerja di kantoran samasekali, gue pun begitu. Dia lebih memilih menjadi guru TK karena memang dia senang sekali dengan anak-anak. Dan tidak perlu waktu lama saat itu gue berkeyakinan kalau dia pasti akan berada di posisi yang dia inginkan. Gue yang saat itu meng-iya kan berkata dalam hati kalau semuanya akan terjadi. Seperti doa yang terkabulkan, dia kini telah menjelma menjadi pengajar untuk anak-anak di salah satu tempat penitipan anak di kawasan Jakarta Selatan.

Bersamaan dengan kita yang merajut mimpi di tengah hangatnya percakapan, gue bermimpi suatu saat nanti bertemu penulis idola gue. Mungkin hanya sekedar meminta foto dan tanda tangan bisa membuat gue menjadi salah satu orang paling bahagia di dunia ini. Dan ternyata Tuhan memberikan jalan yang tidak akan gue lupakan. Meet & Greet sekaligus peluncuran buku terbaru dari Raditya Dika, salah satu penulis idola gue yang berjudul Koala Kumal menjadi jalan yang nggak akan gue lewatin begitu saja. Tidak perlu waktu lama dan berpikir dua kali buat gue agar bisa melihat secara langsung dengan mata kepala gue sendiri, berfoto bersama, dan meminta tanda tangan penulis idola gue. Seperti doa yang terkabulkan kembali, gue sudah berada di posisi yang gue impikan.

Waktu seakan berjalan ditempat. Gue mulai bingung harus mulai dari mana lagi. Impian terdekat sudah terlaksana tidak terasa, dan dia tetap menjadi yang terakhir sebelum memulai kehidupan baru. Tapi untuk itu rasanya masih terlalu lama atau gue yang berpikiran terlalu cepat. Maka dari itu langkah-langkah kecil harus gue lakukan sejak dini. Maksimalkan waktu kuliah dan mencari pekerjaan dari sekarang. Dan selebihnya bersosialisasi dengan teman baru dan teman lama, guna membangun koneksi yang akan sangat berguna untuk kedepannya.

Dari sisi lain gue berusaha mewujudkan rencana-rencana yang menjadi ‘peta’ untuk jalan gue kedepannya. Namun gue punya riwayat buruk kalo gue udah mulai nyusun rencana. Yang paling dekat dan yang paling gue nantikan adalah saat Bertemu Ibu Guru.

Gue menyebut ini sebagai petualangan kecil-kecilan. Karena cuma bermodalkan uang nggak sampe 50 ribu, dan Google Maps. Gue emang udah nyari-nyari alamat tempat dia ngajar di google, dan ketemu lah beberapa alamat yang nggak terlalu jauh dari rumah gue. Rencana yang pertama adalah gue nyari sendiri dan gue sengaja nggak bilang apa-apa ke dia. Tujuannya ya biar bikin surprise lucu gitu, atau paling nggak gue gak malu-maluin kalo ketauan nyasar.

Perjalanan gue mulai di hari Jumat pukul 15.30. Gue naik metromini dan kelewatan turun di alamat yang udah gue dapetin. Google Maps juga menunjukkan kalo gue udah sedikit lagi sampai tujuan. Namun sial pertama yang gue dapetin adalah pas gue nelusurin jalan, sinyal di hape gue hilang entah kemana, gue udah hampir frustasi karena udah jalan puluah meter tapi jalan yang gue cari nggak ketemu-ketemu. Gue udah merasa kayak Ayu Tingting versi laki-laki yang lagi nyari alamat palsu.

Awan udah mulai gelap, betis udah mau meledak. Gue memutuskan untuk pulang dan ninggalin apa yang udah gue cari dan ngelanjutin petualangan nggak jelas ini minggu depan. Gara-gara sinyal petualangan gue terhambat. Mungkin gue harus bawa peta dan ngajak dora buat nemenin gue nyari alamat. Dan gue juga harus mastiin kalo Ayu Tingting nggak ngikutin gue dari belakang.

Sampai dirumah gue masih inget jalan apa yang gue lewatin tadi, gue nge-cek Google Maps lagi dan ternyata jarak gue dan tempat dia ngajar cuma berjarak 3 meter. Iya 3 meter doang! Gue agak nyesel karena nggak ngelanjutin jalan dan memilih buat pulang. Tapi yaudahlah, masih ada minggu depan. Dan mudah-mudahan rencana gue berhasil tanpa hambatan.

Beberapa hari kemudian gue nerima whatsapp dari dia berupa gambar yang isinya nama dan alamat lengkap tempat dia ngajar. Di situ ada 3 alamat dan gue masih inget kalo dia ditempatin di satu tempat yang ternyata bukan alamat yang mau gue samperin kemarin. Saat itu juga gue buka Google Maps dan nyari jalan mana yang paling deket dengan tempat dia ngajar, dan gue memilih buat naik kereta dan berjalan kaki karena tempatnya nggak jauh dari stasiun kereta. Gue semangat lagi dan nggak sabar buat hari Jumat depan.

Hari Jumat tiba. Untuk menghindari pulang lewat maghrib, gue jalan lebih awal. Pukul 14.00 gue udah sampe stasiun Manggarai. Suasana stasiun cukup ramai karena sedang ada penggalian dan pembangunan rel dan peron baru. Kali ini gue nggak terlalu tergesa-gesa karena udah yakin kalo gue bakal nyampe di tempat dia ngajar. Gerimis menemani gue saat turun dari kereta dan mau keluar dari stasiun. Tapi itu nggak terlalu gue hiraukan karena pikir gue bisa neduh di tempat dia ngajar sambil ngobrol-ngobrol lucu.

Sial ke dua yang gue dapetin, ternyata gue masih juga salah jalan. Harusnya tinggal nyebrang rel kereta dan belok kiri, gue malah ke arah belakang mall dan belok kanan. Jadilah gue balik lagi dan menyusuri jalan yang udah dikasih tau sama Google Maps.

Gerimis mulai besar atau bisa disebut hujan ringan masih jatuh di atas kepala gue. Tapi demi apa yang udah gue jalanin, gue nggak akan nyerah. Gue terus jalan dan megangin hape gue supaya nggak salah jalan lagi. Tibalah gue di jalan yang dimaksud, gue berjalan perlahan supaya nggak kelewatan. Dan ternyata gue udah sampai, betis gue mungkin nggak akan meledak kayak minggu kemarin, tapi sekarang jantung gue yang mau meledak.
  
Keringet dingin campur air hujan bersatu dari ujung kepala sampe ujung kaki. Gue gemeteran bukan karena nggak tau mau ngomong apa, tapi karena gue belom makan dari rumah. Gue juga masih belum bilang kalo gue mau ke tempat dia ngajar sekarang. Jadilah gue membeli Capcin alias Cappucino pake Mecin di deket sana. Tapi serius cappucino yang gue beli rasanya emang agak asin, entah lidah gue yang kelu apa cappucino nya kecampur sama keringet gue masih menjadi misteri.

Gue mengeluarkan hape dan membuka BBM. Mencari nama dia dan langsung bertanya apakah dia ngajar atau nggak hari ini. Dan sial ke tiga yang gue dapetin, ternyata dia nggak ngajar. Dia melanjutkan pesan yang sudah terkirim dan berkata bahwa dia lagi sakit, entah apa penyakitnya tapi dia nggak tau gimana sakitnya perasaan gue, pengorbanan gue, dan asinnya lidah gue karena abis minum cappucino pake mecin. Tadinya gue nggak mau bilang kalo gue udah ada di depan tempat dia ngajar, tapi gue terpaksa ngelakuin ini karena terlanjur kecewa. Gue foto tembok depan tempat dia ngajar dan gue kirimin via BBM sebagai balasan dari pesan yang dia kirim ke gue, dan gue tambahkan dengan nada bercanda kalo gue abis dari sini.

Lalu dia membalas dengan nada heran dan bertanya gue ngapain disana, lalu gue jawab gue kebetulan lewat aja. Padahal dia nggak tau kalo semuanya udah gue rencanain dan nggak mungkin gue nggak sengaja lewat dengan niat sebesar itu.

Akhirnya gue berjalan ke stasiun dengan tergulai lemas. Gue udah nggak peduli sama hujan yang makin lama makin bisa bikin gue basah kuyup sampe rumah. Gue membeli saldo tiket untuk ke stasiun Manggarai dan membuang cappucino gue di depan gerbang stasiun. Sedotan terakhir bikin lidah gue mati rasa, udah terlanjur malas untuk membedakan mana rasa asin dan rasa manis, karena yang gue rasain saat itu cuma satu, rasa kecewa.

Sambil menunggu kereta, gue membuka hape kembali, mematikan GPS, memasang headset dan memeriksa beberapa pesan masuk di BBM gue. Sial ke empat yang gue dapetin yaitu ternyata tempat yang gue datengin itu kata dia adalah kantor pusatnya, bukan tempat dia ngajar. Dia sempet beberapa kali dioper disitu, tapi dia lebih sering ditempatin di salah satu alamat yang ada di gambar whatsapp yang dia kasih ke gue kemarin. Dan bodohnya, gue nggak kepikiran samasekali buat nyari alamat itu. Hell Yeah!

Kereta datang dan bikin lamunan gue buyar. Suasana kereta lumayan sepi jadi gue bisa duduk dan senderan sambil dengerin lagu. Buat ngilangin sedikit kecewa gue memutuskan buat nggak turun dulu di Manggarai, gue tetep di kereta sampai stasiun Kota karena kereta akan balik lagi ke stasiun Bogor. Di depan gue, ada dua orang yang lagi pacaran lagi main bisik-bisikan sambil ketawa-ketawa dan memberikan tatapan sinis ke gue. Gue pikir lengkap sudah penderitaan gue hari ini. Akhirnya gue pindah, dan duduk dengan tenang di pojok bangku, kereta sudah sampai stasiun Kota, dan bersiap kembali menuju stasiun Bogor.
  
Karena hari itu hari Jumat dan jam-jam nya orang pulang kantor, beberapa stasiun dari stasiun Kota kereta sudah mulai penuh sesak. Dan ternyata belum selesai, sial ke lima yang gue dapetin adalah pada saat gue mau turun di stasiun Manggarai, ada banyak sekali manusia yang mau masuk dari pintu gerbong tempat gue mau keluar, ditambah lagi ada bapak-bapak kampret berbadan besar yang ngalangin gue pas mau keluar kereta. Jadilah gue terdorong lagi masuk ke dalam kereta dan terbawa sampai stasiun Pasar Minggu Baru.

Di stasiun Pasar Minggu Baru akhirnya gue berhasil keluar dari dempetan dan halangan bapak-bapak kampret berbadan besar itu. Gue turun dan berpindah rel ke arah stasiun Manggarai, dan pulang lewat manghrib tidak bisa gue hindari. Sampai di rumah bukan hanya dengan pakaian yang lepek, tapi juga dengan hati yang lepek.

Udah 2 minggu hari Jumat sore terlewat begitu saja. Gue lebih memilih di rumah daripada melanjutkan petualangan nggak jelas itu. Sampai tadi pagi ini gue masih menanyakan apakah dia udah mulai mengajar kembali apa belum, dan dia berkata kalo dia masih harus bulak-balik ke lab untuk control. Bukannya berpikiran negatif, tapi semoga dia benar-benar sakit, bukan menghindar dan tidak mau bertemu gue.

Dan petualangan Bertemu Ibu Guru tidak akan pernah terjadi. Lantas apakah gue menyerah? Iya, mungkin untuk saat ini. Karena pada akhirnya gue cuma punya 2 pilihan, menunggu undangan datang ke rumah, atau menjemput yang masih di rahasiakan. Dan pilihan gue adalah, tidak merencanakan semuanya.

Monday, 12 January 2015

SATU TAHUN YANG LALU

Satu tahun yang lalu, ada seorang manusia mulai memberanikan diri buat membuat ‘sesuatu’. Satu tahun yang lalu, sebagian isi otak nya dibedah, menyusunnya kembali, dan menghiasnya agar bisa ditertawakan.

Satu tahun yang lalu, seorang anak kelas 3 SMK mempunyai impian yang bahkan ia tak tau bagaimana harus memulainya, meraba perlahan, dan akhirnya menyerah begitu saja. Satu tahun yang lalu, ia mempunyai cinta yang luar biasa, seorang pemikir keras yang akhirnya menemukan jalan keluar agar segala kenangan yang telah dilewati tidak mudah dilupakan begitu saja.

Satu tahun yang lalu, ia tidak tahu apa-apa, bahkan perasaannya sendiri pun ia tidak mengetahuinya. Satu tahun yang lalu, ia bersedia menceritakan perasaannya, lewat tulisan singkat ia bercerita bahwa ada seorang perempuan yang telah membuat ia ketergantungan. Satu tahun yang lalu, catatan Cinta Sandwich Isi Tuna terbentuk, dan Cinta Sandwich Isi Tuna menjadi awal dari catatan-catatan berikutnya.

---
 
Nggak kerasa, udah satu tahun gue nulis catatan Cinta Sandwich Isi Tuna. Nggak ada basic samasekali buat nulis catatan se-absurd itu. Background nulis nggak ada, cuma modal seneng baca beberapa buku doang. Ditambah sama niat gimana caranya biar nggak gampang dilupain.

Tujuan gue buat nulis catatan ini juga buat sebagai pengingat, kalo hari ini, satu tahun yang lalu pernah ada badai di pikiran gue, tiap malam bergelut sama kata-kata, dan akhirnya menulis sejadi-jadinya. Gue juga nggak tau pasti bakalan ada peringatan semacam ini apa nggak saat catatan-catatan setelah Cinta Sandwich Isi Tuna berada di tanggal satu tahun pembuatannya.

Sebenernya catetan gue itu nggak ada manfaatnya samasekali. Cuma kejadian nyata yang gue buat jadi lucu doang. Motivasi? Nggak ada, gue nggak pinter bikin seseorang menjadi termotivasi. Bahkan untuk memotivasi diri sendiri buat bangun pagi aja susahnya setengah mati. Quotes? Nggak ada juga, gue nggak terlalu suka quotes. Kalimat terakhir yang sengaja gue sisipin itu murni spontan terlintas dipikiran gue, pokoknya yang berhubungan sama tulisan sama perasaan gue aja. Boro-boro mau copy-paste :p

Tapi ada alasan lain dibalik gue merayakan satu tahunnya Cinta Sandwich Isi Tuna ini. Nggak melulu soal self goal atau kepuasan pribadi, memang harus gue akui ini catatan paling spesial dan paling berkesan. Setiap kalimatnya istimewa karena pas gue bikin gue juga ketawa-ketawa sendiri. Bukan karena saking absurdnya, tapi lo harus percaya kejadian aslinya jauh lebih lucu dari yang gue tulis.

Pada akhirnya gue harus berterima kasih, terutama kepada pihak ke dua yang udah menjadi inspirasi sekaligus menyetujui catatan Cinta Sandwich Isi Tuna ini tanpa harus gue meminta izin :p

Oh iya, sebenernya gue udah bikin versi buku nya lho. Judulnya sama, tapi ada sedikit perubahan dan cerita baru yang gue tambahkan, dan baru terkumpul 42 halaman 


 

Jadi ceritanya suatu hari gue browsing dan nemu pengumuman lomba menulis naskah komedi remaja yang diadain oleh salah satu penerbit terkenal. Banyak penulis favorit gue yang bukunya diterbitin sama penerbit itu. Tapi karena satu dan lain hal akhirnya gue ngebatalin niat gue. Dan baru kali ini sejak terakhir gue nulis naskah lomba, gue nulis di blog lagi.


Pokoknya tanggal ini spesial buat gue, suatu kehormatan kalo lo baca Cinta Sandwich Isi Tuna dan lo bisa ketawa sama kayak pada saat gue bikin catatan itu.

Terima kasih, Cheers!

Monday, 27 October 2014

ANOTHER FAULT IN OUR RELATIONSHIP



Sudah tiga bulan belakangan gue nggak bertemu secara langsung dengan dia. Setelah malam perpisahan itu. Setelah gue melihat dia akrab sekali berfoto dengan cowok lain. Gue masih inget waktu itu gue menantang diri gue untuk Stand up comedy di depan teman-teman. Memang saat itu gue akui tidak berjalan lancar 100%, namun ada kepuasan tersendiri dimana gue bisa membawakan materi yang menuntut untuk dibawakan secara matang dan sempurna. Alhasil gue berhasil menaker diri gue seperti apa dimata teman-teman. Namun ada satu yang tidak bisa ditaker, rasa kecewa gue.

Setelah acara selesai, gue langsung bergegas menuju kamar, gue udah enggan menyapa atau bahkan melihat dia lebih lama lagi. Selain itu gue juga gak kuat sama hawa yang terlalu dingin di puncak (sekolah gue melakukan perpisahan di puncak dan menyewa vila selama 2 hari). Nggak ada yang lebih dingin dari hawa saat malem di puncak, kecuali sikap dia belakangan ini ke gue.

Ada ajakan yang menurut gue cukup gila dari temen gue. Dia berkata:

“Woi lif! Jangan tidur dulu. Berenang dulu lah.. biar enjoy...”

“ENJOY MATA LU!!”

“Yaelah.. aernya kaga dingin kalo lo udah nyebur.. percaya deh sama gue.”

Kata dia meyakinkan gue.

Tapi gue tetep tidak yakin dengan apa yang dia katakan.

“Emang sih pas nyebur kaga dingin. Tapi pas naik pasti dinginnya 2 kali lipat.”

“Ah payah lo..”

Kali ini gue coba nggak ngeladenin ocehan temen gue. Gue lebih memilih untuk menarik selimut dan men-cebur-kan diri ke dalam alam bawah sadar. Gue pikir karena udah terlalu lelah setelah seharian tidak bertemu kasur akan cepat membuat gue tidur. Tapi ternyata enggak, mata gue masih menerawang ke langit-langit kamar, entah apa yang gue pikirkan, yang jelas hawa yang terlalu dingin ini bikin gue tambah susah tidur. Gue ambil hp, membuka beberapa catatan penting yang pernah gue tulis dalam keadaan apapun, dan gue memutuskan untuk menuliskan apa aja yang terjadi hari ini, di dalam catatan baru.

Setelah selesai menulis catatan, gue mulai ngerasa ada yang kurang. Yaitu dia. Gue lupa mengucap kata maaf karena ada beberapa materi Stand up gue yang menyinggung kelakuan dia. Mungkin bukan cuma kelakuan, tapi juga perasaan.

“Maaf ya, tadi cuma bercanda. Hehe.”
(kalo di sms kata ‘hehe’ itu penting sekali. Selain untuk tidak terkesan sombong, juga biar bisa memberikan kesan ketawa-unyu aja gitu. Hehe.)

Sekitar 15 menit gue tunggu akhirnya dia membalas. Dan balasan dari dia yang gak pernah gue lupa sampe sekarang.

“hehehehe”

Kampret.

Setelah tau jawabannya cuma begitu, gue lebih memilih untuk tidur dan nggak ngeladenin lagi sms yang dia kirimkan.

25 menit kemudian HP gue berbunyi lagi.

“Iyaaaaaa”

Karena waktu itu udah pukul 00.30 pagi, gue udah males ngebales sms dari dia yang menurut gue udah nggak penting-penting amat. Udah kelewat bete, percuma juga gue bales. Mendingan juga gue ngelanjutin tidur.

Besoknya, ke-bete-an gue masih berlanjut. Gue pikir awalnya dengan gue berani maju di depan dan Stand Up Comedy, dia bakal tambah atau seenggaknya berpikir dua kali buat nggak ngejauh dari gue. Namun nyatanya nggak. Berbanding terbalik 180 derajat. Dia malah tambah ngejauh dari gue. Lalu, apaka gue nyesel? Nggak. Nggak sama sekali. Justru gue lega. Gue udah bisa mutusin sendiri, kalo dia emang udah nggak ada rasa sama gue.

Perjalanan pulang dari villa tempat gue nginep gue habisin dengan diam berpikir di dekat jendela. Entah apa yang ada dipikiran gue. Yang jelas, gue udah disadarkan secara tidak langsung. Dia seperti ingin menampar, tapi karena nggak enak, dia nyuruh temennya buat nampar gue. Menurut gue itu lebih sakit daripada ditampar langsung. Dan anehnya, gue nggak bisa ngebales. Gue cuma diam, kaget karena nggak nyangka. Mungkin gue emang belum siap, tapi dengan tamparan ini, semoga menjadi bekal yang cukup, buat nggak jadi orang yang manja lagi, nggak semua apa yang gue lakuin harus ada dia. Kalo dia bisa, kenapa gue nggak?

Tiga bulan gue habisin dengan menyibukkan diri sendiri. Dari mulai ikut SBMPTN, ngelamar kerja sana-sini, sampe ikut casting jadi musuhnya Ultramen. Dan udah hasilnya udah bisa diduga, nggak ada yang diterima. Sekalinya ada, gue diterima jadi bintang iklan shampo. Tapi bukan jadi orang yang keramas bahagia banget, tapi jadi botolnya.

Bis yang kami tumpangi berhenti di salah satu tempat perbelanjaan yang mengatasnamakan susu. Segala yang dijual disana mengandung susu. Mulai dari susu sapi murni, makanan olahan yang berbahan dasar susu sapi, sampai ekstrak kotoran sapi. Gue yang nggak berniat berbelanja dan hanya ingin buang air kecil, turun dari bis bersama beberapa orang teman. Niat gue hampir batal karena gue hampir salah masuk kamar mandi. Bukan cuma itu, di depan kamar mandi udah ada dia yang berdiri seperti security. Gue kaget karena hampir menabrak dia, agak seneng sebenernya, coba aja gue nggak buru-buru sadar dan nabrak beneran sampe jatuh, pasti udah kayak di ftv tuh.

Karena malu gue hanya senyum dan dia membalas dengan senyumannya yang sangat sulit gue lupakan. Sebenernya bisa aja gue ngajak ngobrol dia sambil nungguin kamar mandi yang penuhnya kayak lagi ngantri beli iPhone 6 seharga 5 ribu rupiah. Tapi gue kembali mengurungkan niat gue karena udah terlanjur kecewa, dan yang gue liat juga dia udah nggak mau lagi gue ajak ngobrol.

Seperti orang-orang yang selayaknya lagi galau, gue pun nangis sambil kencing di urinoir. Sepanjang air kencing gue keluar, sepanjang itu juga air mata gue keluar. Karena gue udah selesai kencing, gue mau ngelakuin punchline nangis biar puas. Gue teriak sekenceng-kencengnya. Bukan cuma biar nggak inget-inget lagi kejadian hari ini, tapi juga karena titit gue kejepit resleting.

Gue keluar dari kamar mandi. Untungnya titit gue nggak kenapa-kenapa. Mata gue melepaskan pandangan ke seluruh ruangan, mencari dia yang gue kira udah keluar dair kamar mandi. Ternyata emang mungkin dia udah keluar dan nggak nungguin gue. Lagi pipis di kamar mandi aja ditinggalin, apalagi nanti udah lulus dan susah ketemu. Tadi niatnya nggak pengen belanja apa-apa dan langsung ke bis dan dengerin lagu metal sekenceng-kencengnya. Tapi entah kenapa kaki gue malah menuju tempat olahan keripik dari susu sapi. Jadilah gue belanja 3 kantong keripik, 2 botol susu sapi, dan 1 orang kasir untuk dibawa pulang. Uang habis, hati pun terkikis.

Bis kami berjalan perlahan menuju Jakarta. Temen-temen gue sibuk bercanda dan ngobrol, sementara gue cuma diem dipinggir jendela sambil membayangkan apa aja yang udah gue lakuin bareng dia. Seakan semua berputar kembali, gue kayak ada di mesin waktu, melihat jelas senyum canda ngakaknya dia karena kelakuan gue, melihat dia menangis perlahan dan sembunyi dibalik rasa bahagia yang dibuat-buat. Dan sayangnya semua itu sudah terlewati. Gue udah nggak bisa ngelihat semuanya lagi sekarang. Ada banyak tanda tanya dikepala gue, dan mereka akan terus penasaran jika tidak menemukan jawabannya. Gue kini cuma bisa berdoa, semoga dia bisa terus bahagia walau tanpa gue, semoga dia bisa temukan orang yang mencintai dia setulus gue, dan gue harap dia terus berjalan ke depan dan nggak nengok-nengok lagi ke belakang cuma buat ngeliat gue. Mungkin kita emang udah harus pisah sekarang, udah nggak ada lagi yang bisa dipertahanin. Gue juga mau begitu, terus berjalan ke depan, nggak ngeliat ke belakang lagi. Siapa tau kita bertemu lagi di pertengahan, perempatan, atau bahkan di ujung jalan. Satu yang gue percaya, Karena di dalam kaki-kaki yang menguatkan, selalu ada doa-doa yang mengaitkan.