Thursday, 15 October 2015

SEBATAS JARAK



Ada seseorang perempuan yang bisa mengubah cara pandang gue dalam mendapatkan sesuatu. Dia sadar betul bagaimana caranya untuk mendapatkan perhatiannya. Mungkin itu belum sepantasnya di lakukan untuk anak kelas 4 SD. Tapi entah pergaulan atau didikan orang tuanya, dia menjadi seseorang yang begitu gue idolakan. Seperti itulah, Ara telah menjadi obesesi dan hanya berada di dekatnya, menjadi sesuatu yang gue impi-impikan.

Ara adalah anak pertama dari tiga bersaudara, dia punya satu adik perempuan dan satu adik laki-laki. Keluarga Ara bisa di bilang adalah kerabat dekat keluarga besar gue, karena dari zaman dulu memang kita sudah bertetangga, jauh sebelum gue dan Ara lahir, nyokap gue dan ibu nya Ara udah saling mengenal, walaupun nggak terlalu dekat, hanya kenal nama saja. Tanggal lahir dan tahun kelahiran gue dan Ara pun nggak berbeda jauh, hanya selisih 20 hari. Gue lahir pada tanggal 2 September 1996, dan Ara lahir pada tanggal 22 September 1996.

Gue tau banyak tentang Ara, dari mulai makanan kesukaan nya, minuman kesukaannya, boneka kesukaannya... Ara kalo lagi iseng terus nggak ada makanan di rumahnya suka makan indomi pake nasi, gue tau karena saat itu gue jualan indomi terus Ara beli indomi soto di gue 5 bungkus. Gue juga pernah liat Ara beli jamu beras kencur sama jamu klingsir di mbak-mbak jamu bersepeda, gue tau karena saat itu gue menyamar menjadi mbak-mbak jamunya. Gue juga tau Ara seneng banget sama Stitch dalam kartun Lilo & Stitch, itu terbukti dia mengkoleksi banyak boneka Stitch di kamarnya, saking banyaknya, kamarnya penuh dengan boneka dan Ara tidur di luar.

Jarak memisahkan kami. Gue yang saat itu tinggal dan sekolah di Depok, jadi jarang bisa ngeliat Ara yang tinggal dan sekolah di Jakarta, dia bersekolah di salah satu SD yang terbilang cukup elit di kawasan Guntur, Jakarta Selatan. Jadinya gue cuma bisa ngeliat Ara pada saat liburan sekolah, itu pun jarang-jarang karena Ara suka pergi menginap di rumah saudaranya di Bekasi.

Gue enggan sebenernya untuk di bilang Secret Admirer. Ya karena emang nggak ‘Secret-Secret’ amat. Mengingat rumah kita yang berhadap-hadapan, kalo begini gue menyebutnya ‘Mengamati Tetangga’.

Sampai pada ketika lulus SD, ada usulan dari tante gue untuk gue supaya tinggal dan sekolah di Jakarta. Gue udah seneng aja karena gue tau gue bakalan bisa sering ngeliat Ara atau bahkan gue bakalan satu sekolah dengan dia. Sungguh mimpi yang akan menjadi kenyataan. Namun belum menjadi kenyataan, nyokap gue nggak ngebolehin gue tinggal di Jakarta, dengan alasan nanti gue ngerepotin tante, kakek dan nenek gue di sana. Dan di saat yang bersamaan, gue tau kalo Ara udah lolos masuk ke salah satu SMP elit di kawasan Cikini yang menjadi sekolah incaran gue juga.

Baru pada saat SMK gue benar-benar tinggal di Jakarta, gue pernah cerita alasan gue pindah dari Depok ke Jakarta: [DI SINI] memang keadaan udah banyak berubah, tapi sepertinya rasa cinta atau penasaran gue terhadap Ara nggak banyak berubah. Hanya sudut pandang gue sekarang melihat Ara sebagai sebuah tanda tanya besar, dan menjadi lebih abu-abu.

Friday, 17 July 2015

OLEH-OLEH LEBARAN



Jujur aja, lebaran tahun ini bener-bener sangat berbeda. Adanya orang-orang baru yang masuk dan harus gue anggap sebagai bagian dari keluarga, sampai adanya kejadian satu tahun sekali yang harus gue akui kalo momen itu sulit banget gue dapetin di hari-hari selain lebaran. Dan gue juga baru sadar, kalo ternyata saudara gue itu banyak banget, dari orang Bogor, sampai orang Senegal.

Entah sindrom atau hal apa yang sering banget bikin gue susah tidur kalo besoknya ada suatu perayaan besar yang melibatkan gue di dalamnya. Golar-goler-golar-goler, dari dengerin lagu sampe streaming youtube nggak bikin gue ngantuk sama sekali. Gue pikir ini akan menjadi hari yang buruk mengingat sampe jam 04.00 gue masih juga belum bisa memejamkan mata. Udah kebayang gimana nanti lemes dan pusingnya gue salaman sama tetangga dan saudara yang dateng ke rumah. Boro-boro sempet salaman, yang ada abis sholat ied gue malah ngelanjutin tidur.

Tapi ternyata nggak seburuk itu. Banyak sekali aura-aura positif yang menuntun gue buat seengaknya tetep melek dan menikmati obrolan-obrolan keluarga yang menurut gue sangat penting untuk mempererat atau mengencangkan kembali tali silaturahmi yang sudah mulai mengendur. Ya walaupun nggak semuanya bisa berkumpul karena satu dan lain hal, tapi itu sama sekali tidak mengurangi esensi dari silaturahmi keluarga yang bisa gue dan anggota keluarga lainnya rasakan.

Nyokap gue udah nikah beberapa waktu lalu dan sekarang dia membawa suaminya untuk mengikuti prosesi lebaran anti mainstream yang keluarga gue lakukan, yaitu; saling bermaaf-maafan dan menyambut tetangga-tetangga yang ingin bersilaturahmi atau mengobrol kecil sambil memakan kue yang sudah kami sediakan. Anti mainstream kan? Lho, bukannya esensi sesungguhnya dari berkumpul bersama keluarga di saat lebaran adalah mengobrol dan bercanda di dalam rumah sambil memakan kue yang sudah di buat dengan tangan dan keringat sendiri?

Selang beberapa jam setelah sholat jumat, gue dan sebagian anggota keluarga di kagetkan dengan adanya orang berkulit hitam yang memakai baju muslim berwarna putih dan celana panjang berwarna merah menghampiri rumah kami. Tingginya kira-kira sekitar 185 cm, cukup tinggi bagi rata-rata tinggi keluarga kami yang hanya menyentuh di angka 165 cm. Sekelibat ternyata ada dua orang perempuan yang terlihat tidak asing, satu orang perempuan diantaranya membawa satu anak kecil laki-laki berkulit hitam juga, umurnya sekitar 1,5 tahun yang memakai pakaian muslim berwarna merah dengan balutan warna coklat yang cukup mencolok. Rupanya setelah cipika-cipiki, gue baru mengetahui kalo orang berkulit hitam memakai baju muslim berwarna putih dan celana panjang berwarna merah ini adalah suami kedua dari salah seorang perempuan saudara jauh keluarga kami yang menggendong anak kecil tersebut. Setelah diperkenalkan gue baru tau kalo dia itu orang Senegal, mungkin dia mualaf dan untungnya dia sudah lumayan lancar berbahasa indonesia, ya walaupun masih sedikit di campur dengan bahasa inggris. Sayangnya gue nggak sempet ngobrol dan minta foto sama dia. Percaya sama gue, dia nggak kayak orang-orang Afrika yang sering kita lihat di film-film. Karena dia orangnya ramah dan senang bercanda, pada saat anaknya di gendong oleh nyokap dan tante gue, dia terlihat tidak keberatan. Anaknya pun anteng saat di gendong-gendong dan senang bercanda juga seperti ayahnya. Ini keren banget, berarti secara tidak langsung gue udah punya saudara jauh, nggak nanggung-nanggung, keluarga gue udah mengembangkan sayapnya ke level yang lebih tinggi, ke taraf internasional. Ya memang hanya saudara jauh, sejauh Jakarta-Senegal.

Tapi sebelum kunjungan saudara jauh keluarga gue yang dari Senegal itu berlangsung, sebelum sholat jumat, lebih tepatnya setelah sholat ied. Gue mendapatkan momen yang jarang atau susah banget gue dapetin selain saat lebaran. Bukan cuma tentang kumpul keluarga, makan kue, dapet THR, dan lain-lain. Melainkan ini lebih melibatkan perasaan, Ara, cinta nggak kesampaian gue, datang paling pertama bersama keluarga kecilnya. Kebetulan memang rumahnya Ara itu berhadap-hadapan dengan rumah gue, dan ya memang setiap lebaran Ara dan keluarganya datang ke rumah gue, namun beberapa tahun terakhir gue nggak berani nemuin Ara saat datang bertamu. Mungkin karena sakit dan malu hati karena dia udah menjadi cinta pertama yang nggak kesampaian, dan gue lebih memilih untuk bersembunyi di dalam kamar mandi atau di kamar gue. Namun itu udah beberapa tahun yang lalu, keadaan udah banyak berubah, dan gue udah jadi lebih berani untuk sekedar bersalaman dan bertukar pandangan serta senyuman.

Dan anehnya gue masih aja deg-degan setengah mati, mana gue lagi makan permen, untung nggak keselek.

Kejadiannya begitu cepat, Ara datang ketiga setelah ayah dan ibunya baru disusul dengan kedua adiknya, seperti biasa, dia masih terlihat cantik dengan rambut belah pinggir yang di urai, lesung pipi nya dan senyuman tipis di bibirnya menyapa gue yang terlihat bego dan acak-acakan ini. Mata kita bertemu tidak lama, tatapan matanya yang tajam menatap seperti ingin menusuk hati gue, seakan mengingatkan kalo dia pernah terlalu tinggi sampai-sampai gue nggak bisa menjangkau bahkan menyentuh ujung kakinya. Tidak lama kemudian jemari kita bertemu, jemari yang mungkin terlalu halus untuk seorang manusia. Gue terhanyut, mengingat gue cuma bisa menatap, dan bersentuhan dengan Ara sedekat itu, biarpun rumah kita berhadapan, tetapi rasanya sudah tidak mungkin kalau gue bisa menemukan momen itu selain pada saat lebaran lalu, Ara terlalu sibuk kuliah dan bekerja, dan gue yang terlalu menyibukan diri untuk berusaha percaya kalau gue tidak pantas untuk dia. Sentak lamunan gue tersadarkan seiring dia menarik jemarinya dari jemari gue.

Setelah bersalam-salaman dengan beberapa anggota keluarga gue, Ara dan keluarganya izin untuk pulang. Ini adalah yang gue sebut sebagai momen satu tahun sekali. Ara yang biasanya terlalu tinggi rela merendah hanya untuk tersenyum dan menyentuh sepersekian detik gue yang bodoh dan acak-acakan ini.

Lebaran kali ini membawa oleh-oleh yang sudah gue pesan dari jauh-jauh hari, bukan cuma tentang Ara, juga tentang keluarga, orang tua, dan saudara-saudara yang berbahagia. Gue senang karena orang-orang di sekitar gue bisa merasakan kebahagiaan dalam waktu yang bersamaan.

Saturday, 27 June 2015

JOGGING CINTA DI TAMAN HONDA



Hari yang cerah buat santai di kelas, karena semua ujian udah selesai dan tinggal menunggu hasil kelulusan. Memang siang itu cukup cerah, makanya guru olahraga gue sudah memberitahu dari kemarin kalau kita akan melaksanakan ujian praktik remedial di luar sekolah. Gue pikir ujian remedialnya cuma senam skj buat anak sd yang kita dipaksa untuk menghafalkannya setiap hari jumat pagi. Ternyata nggak, guru olahraga gue menyuruh kita semua berlari mengelilingi Taman Honda sebanyak 10 putaran, dan waktu yang dia berikan paling lambat adalah 10 menit. Iya guru olahraga gue emang udah agak gila.

Selain karena sekolah gue waktu itu nggak terlalu jauh dengan Taman Honda, alasan lainnya yaitu lapangan sekolah gue nggak memungkinkan untuk di pakai lari, ya sebenernya bisa aja sih, cuma kalo lari keliling 10 putaran di lapangan sekolah gue ya palingan cuma kayak 2 putaran di Taman Honda. Jangankan pegel, keringetan juga nggak. Begitu mendengar pengumuman peraturannya kayak begitu, kita semua udah lemes duluan. Bukannya pesimis atau gimana, YA EMANG NGGAK MUNGKIN.

Guru olahraga gue udah meniup pluit warna merahnya berkali-kali yang menandakan kita udah disuruh ganti baju dan turun ke lapangan sekolah lebih cepat. Di kelas gue, peraturan ganti baju saat jam pelajaran olahraga adalah; perempuan adalah pemegang kuasa nomor 1, jadi mereka berhak atas segala keputusan dan anak laki-laki adalah para budaknya. Setiap pelajaran olahraga, para perempuan langsung berdiri serempak dan menyuruh kami, anak laki-laki untuk segera keluar kelas dengan cara yang amat sangat tidak patut untuk dicontoh, misalnya saja, mereka pernah menyuruh (mengusir) kami dengan mendesuh seperti mengusir kucing, meneriaki kami maling celana dalam, sampai menyiram kami dengan air panas. Ya, kami hina sekali waktu sekolah.

Sialnya siang itu, sebagian anak perempuan yang berganti pakaian di dalam kelas sepertinya dengan segaja berlama-lama di dalam kelas. Sepertinya mereka sudah merencanakan ini semua; mereka berlama-lama mengganti pakaian di dalam kelas sehingga kami kehabisan waktu untuk berganti pakaian, lalu karena kehabisan waktu, kami di hukum tidak boleh bernapas selama jam pelajaran olahraga. Dan mereka pun tertawa jahat menandakan keberhasilan mereka mengerjai kami. Hhhmmmmm.....

Dan ternyata benar saja, setelah kami selesai mengganti pakaian, teman-teman beserta guru olahraga gue udah pergi duluan ke Taman Honda. Tapi gue nggak bener-bener menyesal, ternyata ada Bella dan satu orang temannya yang ternyata baru selesai mengganti pakaian olahraga di kamar mandi. Jadilah sebagai seorang gentlemen gue menyuruh teman-teman gue untuk menunggu Bella dan temannya menaruh pakaian seragamnya di kelas, dan berjalan bersama-sama ke Taman Honda.

Sepanjang perjalanan pun terasa seperti tidak ada beban kalau kami semua terlambat dan bersiap untuk di hukum. Sepertinya cinta yang rindu untuk berjalan beriringan memeluk gue
dan Bella ke suatu fase dimana kita berada di dalam ruangan kedap waktu, hal yang paling gue rindukan.

Gue beruntung punya temen sekolah kayak Furqon, Jundi dan Trisna, mereka menghibur demi apapun. Gue jadi punya bahan candaan di saat ada hening yang menjadi jeda dalam obrolan gue dan Bella. Hal yang paling gue rindukan juga.

Sesampainya di jogging track Taman Honda rupanya temen-temen yang lain udah mulai lari duluan. Gue beruntung karena kita semua nggak dihukum. Sebenernya nggak dihukum juga sama aja, karena menurut gue lari keliling Taman Honda 10 putaran dalam 10 menit juga sudah termasuk hukuman buat betis gue. Ya gue mulai berdoa dalam hati, mudah-mudahan betis gue nggak meledak. Tapi gue beruntung lagi, karena Bella pun berpikiran sama kayak gue. Ya seenggaknya kita akan bakalan berbagi kelelahan.

Bella dari dulu emang nggak pinter olahraga. Gue sih wajar-wajar aja kalo cewek itu nggak pinter olahraga, toh nggak semua cowok juga pinter olahraga. Jadi ya hasilnya udah bisa ditebak, dia hanya lari di 5 meter awal, selebihnya dia lebih memilih ngobrol sambil jalan sama temennya. Berbanding 360 derajat sama gue, ya gue kan pernah jadi kapten basket sekolah, otomatis gue hobi banget sama olahraga, dari lari pagi, sampe main catur sambil tinju. Dan udah bisa ditebak kan? Biarpun gue sempet ngos-ngosan, tapi gue pasti lari lebih jauh dan lebih semangat, ya gue cuma lari di..... 6 meter awal. Selebihnya gue nyariin Bella, mau gabung ngobrol sambil jalan.

Di tengah-tengah gue mencoba mengatur napas, gue melihat Bella di belakang gue sedang berjalan sendirian. Ini momen spesial buat gue, biarpun kejadiannya nggak terlalu lama, tapi kenangannya bakalan terus nempel di kepala gue. Itu terbukti kalau sampai sekarang gue masih inget dan mencoba mengabadikan ini sebagai suatu catatan singkat. Tapi ya sepertinya gue masih belum rela kalo gue melepaskan pelukan cinta yang rindu akan berjalan beriringan ini begitu saja. Gue udah nggak memperdulikan temannya Bella kemana dan kenapa dia berjalan sendirian. Dia melihat gue yang berada di depannya dengan setengah tertawa. Tidak lama kemudian, kami berjalan beriringan.

Semesta mendukung kita lagi. Dari mulai cuacanya yang tidak terlalu panas, sampai suasana Taman Honda saat itu yang sangat indah. Tidak seperti biasa, di atas kami banyak payung-payung warna-warni menggantung, ada sekitar 12 payung di tiap bloknya. Tanaman yang lebih terlihat rapih dan beraturan. Tempat duduk sampai tempat sampah yang di lukis sedemikian rupa.

‘Capek ya? Hahaha’

Gue membuka percakapan

‘Hahaha... Emang kamu nggak capek?’

Mungkin dia nggak ngeliat keringat yang mengucur di kepala gue udah segede biji jagung

‘Eehh.. Nggak kok... Hehehe... Udah yuk lanjut jalan aja..’

Sekali lagi kami berada di dalam ruangan kedap waktu. Kita udah nggak memperdulikan peraturan 10 putaran dalam 10 menit itu. Seperti dua orang yang sedang berbalas pantun, obrolan gue dan Bella tidak pernah terputus. Satu hal yang gue tau, gue udah lebih merasakan sulitnya untuk merelakan.

Sekitar 3 putaran kami lewati dengan tidak terasa. Sampai gue sadar kalo temennya Bella ternyata udah ada di belakang kami entah berapa lama. Gue berusaha ngasih tau Bella kalo temennya udah ada di belakang dan ngikutin kita sendirian. Sebenernya gue mau ngebiarin aja kita ngobrol terus sambil jalan sampe 10 putaran, tapi karena nggak enak sama temennya Bella, akhirnya gue dengan berat hati ninggalin dia dan temennya, dan berlari pelan seakan hati gue diiket dan susah buat dilepasin, tapi ya mau gimana lagi. Belum ada 10 langkah gue ninggalin Bella dan temennya, dia manggil gue keras seperti ada yang tertinggal.

‘LIF!’

Gue pun nengok, dan gue tau dia ingin mengucapkan sesuatu, tapi tertahan sama lidahnya, dan akhirnya dia cuma berkata

‘Hati-hati ya’

Wednesday, 10 June 2015

KONSEKUENSI ITU PASTI ADA, ATAU DALAM KATA LAIN, BERKORBAN DEMI KEBAHAGIAAN ORANG LAIN



Hari ini gue belajar banyak banget. Penantian dan banyaknya pengorbananan selama kurang lebih empat tahun telah terbayar lunas. Ibu gue baru saja melangsungkan akad nikah yang dilaksanakan tadi pagi (07-06-2015).

Rasanya pasti campur aduk, ada bahagia, ada juga yang menjadi korban dalam kebahagiaan.

Oke, biar gue jelasin sedikit.

Gue besar dalam keluarga yang kurang harmonis. Kedua orang tua gue bercerai pada saat akhir gue kelas tiga SMP, itulah salah satu alasan gue pidah dari Depok ke Jakarta untuk meneruskan pendidikan gue. Gue punya satu adik laki-laki yang saat mereka memutuskan untuk bercerai, berusia enam tahun, dan pada saat itu dia masih sekolah TK dan melanjutkan ke sekolah SD di Jakarta. Penyebab perceraiannya adalah masalah ekonomi, perselingkuhan yang udah bukan menjadi isu lagi, dan masih banyak lagi. Yang jelas gue tau saat itu adalah orang tua gue bakalan bercerai, kehidupan gue nggak akan normal.

Setelah bercerai, gue dan adik gue tinggal sama nyokap di rumah orang tua nya, atau di rumah kakek dan nenek gue. Nggak bener-bener lega karena gue pikir setelah bercerai nggak akan ada masalah-masalah lagi, ternyata gue salah. Semuanya udah terjadi, di dalam perceraian, anak akan menjadi korbannya, dan betul, gue dan adik gue menjadi korbannya.

Masalah ekonomi kayaknya belom selesai begitu aja. Dari mulai memilih sekolah swasta yang pas buat gue, Salah satu alasan nyokap gue nyuruh ikut seleksi buat masuk sekolah negeri adalah untuk meringankan biaya, karena biaya masuk sekolah negeri saat itu lebih ringan dari sekolah swasta. Tapi apa mau dikata, gue nggak lolos. Ya maklum aja, gue dari sekolah luar Jakarta, dan kapasitas anak murid baru dari luar Jakarta di tiap sekolah negeri cuma 5 orang. Gue agak malu sebenernya karena nggak lolos dan ngerepotin nyokap gue, di tambah lagi pasti akan ada pertengkaran gara-gara biaya masuk sekolah swasta itu cenderung mahal bagi nyokap dan bokap gue. Beruntung adik gue masuk SD negeri yang semua-muanya gratis, dari biaya masuk sampai spp. Beban biaya dan beban pikiran sedikit berkurang.

Bokap gue saat itu belum mempunyai pekerjaan yang jelas, yang ada di pikiran beliau saat itu adalah untuk menunda sekolah gue dulu satu tahun sampai ada uang untuk membiayai gue masuk sekolah. Pertengkaran terjadi lagi, nyokap gue jelas nggak setuju dengan apa yang bokap katakan, tapi beruntung gue punya keluarga yang masih berbaik hati. Keluarga dari nyokap gue akhirnya patungan untuk membiayai uang pendaftaran gue yang mencapai tiga juta rupiah. Gue bersyukur sekaligus malu hati karena udah dibantu sedemikian rupa, dari sini gue udah bisa ngebedain, mana yang baik, mana yang nggak baik buat gue.

Di waktu yang hampir bersamaan gue juga tau kalo tanpa persetujuan gue bokap udah punya istri lagi. Dia memutuskan untuk menikah siri nggak lama setelah bercerai dari nyokap gue. Lalu karena melakukan pernikahan siri, maka gue saat itu merasa kehilangan hak gue sebagai anak kandung. Gue nggak pernah tau atau lebih tepatnya nggak pernah di kasih tau kapan dan dengan siapa beliau menikah. Gue sengaja nggak pernah mau nanya apa-apa tentang perempuan yang gue disuruh bokap untuk memanggilnya dengan sebutan tante itu, dengan harapan kalo bokap bakalan ngasih tau gue suatu saat nanti. Tapi lagi-lagi itu cuma menjadi harapan gue. Sampai saat ini, tanpa pernah gue tau asal-usul istri bokap baru gue, sekarang bokap udah punya anak lagi.

Permasalahan yang cukup kompleks untuk anak di bawah dua puluh tahun seperti gue dan adik gue.

Sekarang nyokap udah nikah. Tapi bedanya beliau nikah secara resmi, gue pun ikut dilibatkan dalam semua prosesnya. Senang sekaligus sedih karena nyokap bakalan tinggal sama suami nya di bogor. Gue yakin nyokap dan suaminya mau tinggal se rumah sama gue dan adik gue. Tapi di keluarga besar gue, orang yang udah menikah, nggak boleh tinggal di rumah orang tuanya, selain itu suami nyokap gue memang udah nyiapin rumah buat nyokap gue. Nggak kenapa-kenapa sih, ya itung-itung belajar mandiri. Gue jadi inget dulu setelah lulus sekolah, gue mau kuliah di Bandung dan nge-kost deket kampus. Seperti anak-anak yang baru lulus lainnya, tujuan gue cuma biar bisa belajar jauh dari orang tua, belajar mandiri dan nggak ngerepotin lebih tepatnya. Tapi sebelum gue bilang ke nyokap, gue udah mikir panjang, enak sih tinggal sendiri, tapi pasti nanti gue bakalan repot banget, gue nggak punya saudara satu pun yang tinggal di Bandung, belum nanti gue juga mau nyari kerja part-time buat tambah-tambahan duit kuliah, ya syukur-syukur ada lebihnya buat gue jajan. Ternyata gue salah, justru jauh dari orang tua bakalan bikin orang tua gue tambah repot. Tapi sekarang akhirnya gue ngerasain juga tinggal jauh dari orang tua, tapi gue nggak sendiri, ada adik, kakek, dan tante gue.

Tapi tetep aja, jauh dari nyokap pasti bakalan nggak enak banget. Kesepian, gue pasti bakalan kangen banget di bangunin gara-gara kesiangan, nemenin nyokap masak, disuruh ke warung...

Ini adalah yang gue sebut konsekuensi itu pasti ada, atau dalam kata lain, berkorban demi kebahagiaan orang lain. Di dalam kasus ini, jelas gue yang menjadi korban, bokap nyokap udah nggak tinggal se rumah lagi sama gue. Sekarang anak mana yang nggak sedih nyokap bokap nya tinggal misah-misah? Ya mau nggak mau, gue harus nerima konsekuensi, gue juga tau, bokap nyokap gue juga pasti nerima konsekuensi yang sama kayak gue, nggak bisa ngeliat anaknya setiap hari karena udah nggak tinggal se rumah lagi.

Di setiap konsekuensi pasti ada pengorbanan, kita semua berkorban. Berkorban demi kebahagiaan masing-masing. Mungkin caranya memang berbeda-beda, tapi gue punya prinsip; siapapun pasangan baru nyokap dan bokap gue, sekalipun mereka udah punya anak, gue cuma punya tiga orang di hati gue; ayah, ibu, dan adik gue. nggak ada yang lain.