Saturday, 5 July 2014

SETITIK ROMANSA DI BULAN RAMDHAN


Semenjak Sandwich isi tuna, kehidupan berjalan seperti biasa. Cinta yang tersamarkan oleh tawa kecil, pandangan yang bertemu namun malu tuk menyapa, dan gestur yang buatku ingin mati di dalamnya.

Mungkin hanya sedikit yang tau, ada penyesalan yang bila di ingat, aku bahkan tertawa sendiri di buatnya. Bagaimana bisa seseorang yang jatuh cinta setengah mati, membuat marah setengah mati orang yang di cintainya. Aku yang salah dan dia marah besar, itu wajar saja. Namun kita berdua menangis, hubungan jadi korbannya, aku yang tak enak hati berusaha menjaga jarak. Meski berat, harus ku lakukan.

Hari itu bulan Ramadhan. Tradisi sekolah menjadi saksi bercampurnya perasaan antara segan, malas, dan... ehm bahagia. Bagaimana semesta bekerja sama untuk menyatukan kami dalam suatu lomba.

Lomba Peragaan Busana Muslim. Iya, kami berdua (entah disengaja atau tidak) di pasangkan untuk “Memperagakan” pakaian laki-laki dan perempuan muslim/muslimah. Teman-teman menyarankan agar kami berdua yang mewakili kelas. Love never felt so good.

“Udah... yang ngewakilin kelas kita buat peragaan busana muslim lo aja lif sama dia”
Kata salah seorang teman.

“Gue?! Ah gak mau ah!”
*padahal dalem hati, Akhirnyaaaaaaaaa..... Yes yes yes! Ini adalah momen kesempatan buat gue! Huahahahahahaha..... uhuk uhuk uhhhuuoooeeekkk...(keselek pensil)*

Setelah dipaksa dengan duit dua ribu rupiah, akhirnya gue mau.
*padahal gak usah di paksa juga gue udah mau.*

Seiring gue menganggukan kepala tanda kalau gue setuju, muncul pertanyaan, dia nya mau apa enggak?

Ternyata benar dugaan gue, kalo kalo dia pasti......... enggak mau. Iya dia nggak mau, bahkan hampir menolaknya mentah-mentah. Dan bener lagi dugaan gue, abis itu dia sakit perut. Makanya kalo makan jangan yang mentah-mentah.

Akhirnya setelah di rayu dan di paksa dengan uang seribu lima ratus rupiah (lebih rendah lima ratus rupiah dari gue), akhirnya dia mau juga. Dan satu kelas pun meng-amin-i tanda kita sah menjadi pasangan, satu hari.

Intensitas SMS kami pun bertambah sering, dengan alasan memilih baju bagaimana yang cocok untuk kita kenakan saat nanti naik ke atas panggung. Ditambah lagi campur tangan nyokap gue, untungnya dia lumayan ngerti bagaimana menjadi ibu yang baik di saat-saat seperti ini. Perpaduan baju, warna, sampai aksesoris, sarannya lah yang terbaik.

Hijau Tosca menjadi pilihan yang disepakati, kebetulan katanya dia punya baju hijau tosca yang lumayan bagus. Dan kebetulan juga, nyokap gue juga punya long dress warna hijau tosca. Tapi gak mungkin gue pake, gue gak mau ngondek sebelum waktunya. Entah dapet bisikan dari mana, keesokan harinya dia membawa baju yang dia maksud. Dan gue harus membawa baju itu pulang supaya nyokap gue bisa ngeliat dan punya gambaran baju apa yang bakal gue pake nanti. Beruntung dia gak keberatan kalo bajunya gue pake simpen untuk beberapa hari di rumah gue.

Setelah mencari waktu yang tepat, akhirnya gue dan nyokap mencari baju muslim untuk gue di tanah abang. Setelah berkeliling akhirnya kami menemukan baju dengan warna yg hampir mirip dengan baju yang dia punya, walaupun gue tau kalo warna baju itu bukan hijau tosca, tapi lebih mirip biru dongker tapi udah luntur karena sering di cuci. Ya gapapa lah, kadang perjuangan terbaik terletak bukan di hasil akhir, tapi berada pada proses dimana kita berusaha memperjuangkannya. Asoy.

Namun ada suatu ide yang melintas di kepala gue, biar lebih kreatif dan inovatif serta biar bisa di lirik oleh para dewan juri. Gue memutuskan untuk membeli bunga untuk gue kasih ke dia pas di atas panggung, seperti di film-film, gue akan ngasih bunga itu dengan cara berlutut dihadapan dia. Agak malu-maluin memang, namun gue optimis cara ini akan berhasil..... membuat kita tambah malu.

Namun ada satu kendala. Di tanah abang, gak ada yang jual bunga asli, yang ada bunga palsu. Terus gue kepikiran salah satu perkataan dari idola gue.

 “Kamu tau gak kenapa aku beliin bunga palsu ini buat kamu? Bukan karena cinta aku ke kamu palsu, tapi menurutku, bunga palsu ini lebih abadi dibandingkan bunga asli, seperti cintaku padamu.”

Ya gapapa lah, gombalan mas-mas ini bakal gue jadiin alesan kalo nanti dia nanya-nanya.

Gue pulang ke rumah, langsung ngabarin ke dia kalo baju buat gue udah dapet. Besokkannya bajunya dia gue pulangin, dan gue, dia, dan beberapa temen ngomongin konsep apa yang harus gue lakuin di atas panggung, apakah a. gue harus jalan kayang, b. gue harus muterin kepala sekenceng-kencengnya kayak trio macan, ataukah c. kedua-duanya gue lakuin. Menurut ilmu tentang kemanusiaan yang gue pelajari, kalo point c gue lakuin, gue bisa mati kejang sambil ngeluarin busa dari mulut gue, semacam overdosis goyangan dangdut.

Akhirnya gue mengutarakan ide super brillian gue. Saat itu gue ceritain kalo gue bakal ngasih bunga sambil berlutut ke dia. Tapi kagak gue ceritain kalo bunga yang bakalan gue kasih itu bunga palsu alias bunga plastik. Mungkin gue rasa spesies bunga plastik ini dulu adalah bunga asli, tapi dia kurang pede, akhirnya dia pergi ke korea, untuk operasi plastik. Makanya jangan heran kalo bunga plastik banyak yang mirip, kayak artis korea.

Lima hari sebelum perlombaan dimulai, wali kelas kami saat itu menyuruh kami untuk berlatih / Gladi Kotor di depan kelas.

“DEG.”

Calon peserta lomba lain udah pada latihan di depan kelas dan di tonton sama semua murid ditambah beberapa guru yang hadir untuk sekedar memberikan arahan. Gue ngeliat ke belakang, dia ngeliatin balik, berusaha berbicara lewat tatapan mata, tapi malah keliatan kayak orang cacingan. Akhirnya sebagai cowok, gue maju duluan. Bukan mau latihan, tapi ke kamar mandi. Lima menit berselang, gue udah siap dan ingin mempraktekkan jalan-kayang-sambil-headbang, tapi dia belum juga mau maju. Entah gengsi atau malu yang dia rasakan, atau mungkin dia belum latihan jalan-kayang-sambil-headbang di rumah.

Tapi dia akhirnya mau maju juga, setelah melihat wali kelas beserta seorang guru perempuan memperagakan bagaimana jadi model catwalk dadakan. Dari mulai naik ke atas panggung sampai turun panggung mereka contohkan dengan detail. Tapi gue masih bingung, dimana gerakan jalan-kayang-sambil-headbang nya?

Awkward momen terjadi ketika wali kelas memberi saran kepada kita. Dan sarannya adalah ketika kitaberjalan menuju panggung, kita harus memegang tangan pasangan kita. Dan gue (yang sebenernya mau), langsung memasukkan tangan ke dalam kantong celana wali kelas gue. Dengan tujuan memberikan kode kalo gue gak mau megang tangan dia dengan tangan kotor gue (karena gue abis pipis tapi lupa cuci tangan). Iya, gue emang munafik, tapi seenggaknya gue cinta kebersihan.

Gue memberikan alasan kalo kita bukan/belum Muhrim. Dan gue memberikan alternatif lain, gimana kalo pas jalan menuju panggung kita pelukan gandengan tangan aja. Karena posisi panggung saat itu lumayan tinggi dan harus melewati tangga terlebih dahulu, maka ide gue adalah, gue naik duluan dan gue “Ceritanya” ngebantuin dia untuk naik ke atas panggung, berjalan sesuai arahan wali kelas dan guru, membentuk formasi standar pilihan mereka, memberikan bunga sambil berlutut, lalu turun panggung sambil bergandengan. Mesra sekali.

Seperti biasa, hari cepat berlalu. Tepat 2 hari sebelum lomba di mulai kelas kami mengadakan acara BukBer alias Buka Bersama di kawasan Bukit Duri samping rel kereta. Agak sedikit berbeda ketika itu, beberapa guru yang dulu pernah menjadi wali kelas kami, ikut dalam acara itu. Kami pun larut dalam obrolan yang jarang sekali bisa kami lakukan di lingkungan sekolah. Menu makanan nya pun lumayan enak, satu porsi nasi putih hangat dengan ayam bakar lengkap dengan sambel warna merah (emang ada sambel warna biru?). Minumannya pun standar orang berbuka puasa, teh manis, bisa ditambahkan es jika teh nya kepanasan. Entah cuma gue atau ada segelintir teman yang punya kebiasaan kayak gue, gue gak bisa langsung makan nasi pas buka puasa. Sayangnya pihak restoran tempat kami makan tidak menyediakan menu “pembuka” seperti lontong dan teman – temannya. Alhasil gue cuma ngabisin 2 gelas teh manis, dan makan nasi secara formalitas.

Hari yang ditunggu pun datang. Kami mengadakan rapat kecil-kecilan dengan beberapa teman. Memperagakan gerakan dari awal sampai akhir. Penempatan posisi, cara jalan, sampai menaruh bunga di tempat yang tidak diketahui juri, dan meninggalkan sedikit kesan pada penampilan kami. Oke, saatnya pengambilan nomor peserta. Gue dan beberapa peserta cowok dipanggil satu persatu, dan disuruh memilih nomor yang sudah diacak dan di tutup dengan tujuan agar kami tidak tahu nomor berapa yang kami ambil. Beberapa nomor sudah diambil oleh peserta lainnya, yang tersisa tinggal nomor 1 dan 9. Beruntung gue agak sedikit licik cerdik dalam melihat. Gue sedikit melihat kalau nomor 1 yang ada sedikit noda minyak di bagian belakang, sedangkan nomor 9 bagian belakangnya itu bersih. Jadilah gue mengambil nomor yang bagian belakangnya bersih. Namun sial, ternyata yang gue ambil itu nomor 1. Gue salah liat.

MAMPUS!

Setengah kaget saat gue tahu kalo nomor yang gue ambil itu nomor yang paling pertama. Agak bingung sebenernya kalo dipikir-pikir, dapet nomor paling pertama itu cuma ada 2 pilihan, yang pertama, beruntung bisa cepet selesai, yang kedua, bakal jadi contoh/contekan buat peserta lain, dan pilihan yang kedua itu menuntut rasa malu yang sebesar-besarnya.

Untuk menghilangkan rasa malu, gue mencoba melihat kembali gaya pakaian yang gue pake. Gue melihat gaya pakaian dan dandanan gue, karena gue waktu itu suka banget hip-hop dan cenderung alay, karena gue alay waktu itu, setiap gue ngangkat telepon gue selalu ngomong “Heelllooowwwhhh..... sapa neeehhhh...??”. Waktu itu gue memutuskan untuk pake celana gombrong dan dipelorotin sampe dengkul, tujuannya supaya boxer gue keliatan. Gaul abis.

Kemudian gue melihat gaya pakaian dia. Terlihat sangat cantik dengan perpaduan hijau tosca dengan hitam. Jilbabnya pun tidak terlalu panjang, tidak terlalu pendek juga (terus apa dong?) ya mungkin cenderung panjang sedikit. Dikit aja tapi.

Beberapa menit sebelum di panggil, kami memutuskan untuk melakukan pemanasan. Push up 25 kali, sit up 20 kali, scot jump 15 kali, dan terakhir kami mengelilingi komplek sekolah sebanyak 10 putaran. Akhirnya kami pingsan sebelum naik panggung.

“Yak ini dia, mari kita sambut peserta dengan nomor urut 1...”

Kemudian kami berjalan perlahan sesuai dengan yang di sepakati, menaiki pohon panggung, memberikan salam bak abang none jakarta, berpose dan memamerkan pakaian yang kami gunakan. Keriuah penonton seakan tidak terdengar. Hanya fokus pada gerakan dan berusaha sebisa mungkin untuk tersenyum. Belum sempat berlutut dan memberikan bunga, dewan juri menghentikan dan menuyuruh kami turun dan mengulangi dari awal karena ada kesalahan teknis. Kampret.

Akhirnya kami mengulang dari awal, kali ini sedikit lebih santai karena gue sudah tau atmosfer panggung dengan keriuhan penonton yang seperti sedang menyaksikan pertandingan tinju. Pose, pose, dan pose. Sebelum memberikan salam dan turun panggung, gue pun berlutut dan memberikan bunga itu dengan tatapan nanar menahan malu. Dia pun menerima bunganya dengan tersenyum lebar. Saking lebarnya senyumnya sampe kuping (ini orang apa joker musuhnya batman?). Seraya dia menerima bunga itu, penonton semakin riuh dan liar. Ada yang bilang “CIYE...!!!”, ada yang bersiul tapi gak bunyi, akhirnya ludahnya muncrat ke temen depannya, dan ada suara yang samar-samar gue denger “TURUN... TURUN.. TURUN...!!!”

Kesannya seperti terburu-buru, memberikan salam lalu turun dari panggung sambil bergandegan. Saling menatap dalam sambil tertawa, entah apa yang ditertawakan. Mungkin dia sedikit kaget karena bunga yang diberikan itu bunga plastik. Tapi gue hanya tertawa, berjanji dalam hati, kalau suatu saat gue bakal ngasih bunga asli buat dia. Suatu saat.

Pengumuman pemenang diadakan sebelum berbuka puasa. Sebelum lomba peragaan busana muslim ini, gue juga ikut berpartisipasi dalam lomba menulis kaligrafi. Gue juga bingung kenapa gue yang ditunjuk buat ikutan lomba ini, padahal tulisan gue aja kaya ceker ayam. Dan gue malah tambah bingung kenapa ada istilah “Tulisan Ceker Ayam” kalo ada tulisan yang jelek. Terus tulisan yang bagus tuh kayak gimana? Tulisan ceker ayam betina? Karena kebanyakan jantan tulisannya jelek-jelek? Padahal kan ayam gak bisa nulis?.

Oke balik lagi, pengumuman pemenang perlombaan satu persatu diumumkan. Dari mulai lomba adzan subuh, lomba menulis cerpen islami, lomba paduan suara, sampe lomba adzan subuh sambil nulis cerpen dan diiringi anjing pelacak paduan suara. Tibalah saatnya pengumuman lomba menulis kaligrafi, gue masih inget tulisan kaligrafi gue waktu itu adalah “Bismillahirrohmanirohim” tapi dengan gaya grafiti plus ada gambar mural absurd disampingnya. Gak usah dibayangin, soalnya gue pun gak abis pikir kenapa gambar itu bisa tercipta.

Gue mulai gak fokus. Pasrah lebih tepatnya, apapun hasil yang diterima gue terima. Suatu kejutan ternyata gue mendapatkan juara 2 untuk lomba menulis kaligrafi. Antara happy sama heran, ini kenapa gue yang dipilih buat dapet juara 2. Apakah peserta lain gambarnya ada yang lebih jelek, ataukah dewan juri kesian karena ngeliat gambar gue yang absurd itu, makanya gue dipilih untuk menjadi juara 2? Entahlah, hanya waktu yang bisa menjawab.

Semua perlombaan sudah diumumkan, tinggal perlombaan busana muslim yang belum. Agak sedikit aneh karena jenis penilaiannya menurut perseorangan, bukan per-pasangan. Tapi yaudahlah, gue gak terlalu peduli. Pertama yang diumumkan adalah peserta laki-laki, dan suatu kejutan (lagi) karena gue mendapatkan juara 2 untuk busana muslim laki-laki. Dan kemudian pengumuman busana muslim untuk perempuan, dan suatu kejutan (lagi dan lagi) kalau dia mendapatkan juara 2 juga untuk busana muslim perempuan. Oke, lo semua harus percaya kalo ini bukan suatu kebetulan semata.

Dan gue punya dua kabar, ada kabar gembira dan tidak menggembirakan. Kabar gembiranya bukan kulit badak kini ada ekstraknya, tapi melainkan kelas gue menjadi juara umum untuk perlombaan bulan ramdhan saat itu. Dan kabar tidak menggembirakannya bukan kulit badak kini tidak ada ekstraknya, tapi melainkan bunga yang gue kasih ke dia, dicampakkan begitu saja, menghilang setelah dipinjam sama anak kelas satu buat mereka tampil. Seakan tidak ada harganya, dia membiarkan begitu saja bunga itu menghilang tanpa ada usaha menemukannya kembali. Ternyata memang benar kalau bunga plastik itu tidak ada artinya sama sekali buat dia. Kini gue mau matahin badan idola gue menjadi dua bagian sama rata karena dia udah buat gombalan mas-mas yang anehnya gue percaya itu.

Rasanya seperti tidak tahu lagi harus berkata apa, seakan semesta mendukung kami untuk bersentuhan. Bukan hanya melibatkan fisik, tapi melibatkan batin dan perasaan yang semakin takut kehilangan. Disisi lain gue mulai mengerti kalo perempuan itu aneh, awalnya dia seneng, lalu kemudian bisa berubah kapan aja sesuka dia. Dan disisi lainnya lagi, gue juga mulai sadar, kalo gue tuh bego banget, bisa-bisanya gue percaya kalo dia pasti bakal ngejaga bunga pemberian gue sekalipun bunga itu bunga plastik. Padahal enggak, dia butuh lebih dari itu, dan gue yang terlalu bodoh gak menyadari itu dari awal.

Saturday, 15 February 2014

TENTANG FACEBOOK, MATEMATIKA DAN BOYBAND KOREA (2)



Sore demi sore dilewati, sms demi sms saling terbalaskan, dan malam enggan berlalu dengan cepat. Sampai tiba dimana ada suatu permintaan yang menurut gue adalah awal yang baik. Dia minta diajarin Matematika sama gue.

Mampus.

Dari SD nilai Matematika gue selalu diatas rata – rata, namun tidak jauh pula dari remedial. Bisa disimpulkan kalo pelajaran Matematika gue bego tidak pintar. Apa boleh buat, demi cinta, apapun gue lakukan *kemudian minum jamu buyung upik rasa stroberi.

Saat itu keadaan kelas dia sedang ramai tidak terkendali. Seperti kapal pecah kena bom atom. Sampah ada dimana – mana (ini kelas apa bantar gebang), Bangku ada di atas meja, dan mereka menulis menggunakan pulpen di atas kertas (emang begitu bego!).

Gue masuk sambil melindungi muka gue dari lemparan sempak basah yang dijadikan bola. Lalu gue melihat dia melambai ke arah gue. Gue tersenyum malu. Rupanya gue tau dia melambaikan tangan buat memanggil tukang es doger yang ada di belakang gue. fak.

Gue duduk di sebelahnya, mengeluarkan LKS dan beberapa buku catatan gue (isinya penuh lho, sama gambar sinchan). Dia mengeluarkan tugas yang dia minta tolong gue untuk mengerjakannya.

‘yang mana soalnya?’

‘yang ini kak.’

Gue meneliti soalnya satu persatu, gue hampir pingsan.
Namun disadarkan oleh sempak basah yang tepat mengenai muka gue.

‘oh yang ini.. hahaha’
Kata gue seolah memberi isyarat kalo gue jago banget Matematika.

‘iya yang ini.. hahaha’
Dia tertawa dengan raut wajah yang tidak yakin.

‘ini sih soalnya pernah kakak kerjain waktu itu, gampang banget!’

‘hah masa?’
Dia masih tidak yakin.

Gue membuka satu persatu buku catatan gue, dengan harapan ada rumus yang sama yang bisa gue jadiin alesan kalo gue jago Matematika. Namun gak ketemu satupun. Yang ada malah gambar shincan lagi main sama temen – temennya, lagi ngasih makan shiro, dan shincan lagi berak dicelana.

Gue panik.

‘duh, sebentar ya’

Gue ngebuka LKS Matematika, mengebetnya dengan perlahan, dan masih tidak ketemu.

Gue makin panik.

Keadaan kelas yang makin brutal ngebuat gue pengen ganti baju zaman romawi sambil tereak ‘THIS IS SPARTAAAA..!!!!’ kemudian berperang sempak basah dengan heroik.

Entah bisikkan gaib dari mana. Mungkin dari salah seorang arwah prajurit gue yang mati terkena stoking lepek tepat di bola matanya. Gue kembali ngebuka catetan gue kembali dan langsung menemukan satu soal yang sama kayak yang dia kasih ke gue. Hanya ini cara gue satu – satunya, gue langsung ngasih liat soal yang dia minta.


‘eh, ini sama soalnya’

‘oh, iya..’

Gue langsung menyuruh dia untuk menulis dengan sok tau. Sepertinya secercah harapan tercipta saat momen itu terjadi. Gue langsung izin buat balik ke kelas karena bel masuk sudah berbunyi.

‘kakak balik ke kelas dulu ya, udah bel nih’

‘oh yaudah kak gapapa, makasih ya’

*dalem hati (akhirnyaaaa....)

Gue pun kembali ke kelas dengan keadaan tubuh yang masih utuh. Alhamdulillah.

***

Mencoba Move On dari kejadian Matematika yang memalukan itu ngebuat gue malah makin agresif. Gue ngebuat insiatif yang agak gila dengan mengajak dia pulang bareng. Bukan naik motor atau mobil pribadi melainkan naik angkot. Selain karena gue tau dia pulangnya searah sama gue, juga gue mau ngebikin kesan romantis yang anti mainstream. Iya, gue emang kere romantis.

Suatu siang yang indah sehabis ke kantin bareng, becanda, ngobrol gak jelas, saking gak jelasnya sampe kita ngomong pake bahasa zimbabwe dicampur bahasa kangguru jawa, sampe ngomongin orang tanpa pedulikan dunia.

Memang gue udah niatin ini udah lama, sebelum christopher colombus menemukan benua amerika dan sebelum shincan suka berak dicelana.

Gue berpikir keras gimana caranya dia mau pulang bareng sama gue sambil ngejaga image biar gak keliatan katro abis. Jadinya ya kayak begini kira – kira :

‘nanti kamu pulang sama siapa?’

‘hmm.. sendiri kak, emang kenapa?

‘nanti pulang bareng ya, boleh kan?’

‘yaudah kak gpp kok..’

Yiha! Gue berhasil lagi, senengnya minta ampun, gokil banget, sekarang lo boleh nyebut gue ‘Alif Sang Penakluk Cinta’. Awrait.
Bel pulang sekolah berbunyi, dan gue menunggu di depan kelas, menunggu dia keluar dari kelasnya. Tak lama dia keluar dan dan menunjukkan senyum yang berbeda, gue samperin dia dan kita mengunggu angkot bersama. Hari itu sengaja gue gak turun di tempat biasa, karena gue nungguin dia turun yang tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mengetahui dimana dia biasa turun.

‘duluan ya kak’

‘iya, hati – hati ya’

Akhirnya gue udah tau tempat dimana dia biasa turun. Gue berhasil lagi.

Seperti yang selama ini gue tau kalo cinta datang karena terbiasa memang bisa terjadi sama siapa saja. Gue percaya kalo hati kita yang memilih, bukan dipilih. Kalo nunggu dipilih kapan dapet pacarnya?

***

Keberuntungan gue masih berlanjut ketika gue udah mulai mikir gimana kalo gue pacarin aja dia yang gue rasa udah cocok banget sama gue. Pemikiran itu pun gue usahain semaksimal mungkin. Gue jalan ke sekolah seperti biasa, gak ada persiapan apapun, gak bawa bunga, coklat, balon, cabe, gula merah, garem (karena gue mau ngerujak dikelas), roti buaya, apalagi dinner di tempat romantis. Gue cuma bawa 1 hal penting. Hati yang tulus mencinta dan menerima apa adanya #ciye

Cuma modal nekat kalo kata orang – orang, setelah pulang sekolah gue beranikan diri buat bilang kalo gue suka sama dia. Biarpun cuma lewat pesan singkat tapi malu ditambah grogi bener – bener ngebuat gue gak bisa minum kalo gak aus, gak bisa makan kalo masih kenyang, sampe gak bisa tidur kalo belom ngantuk.

Singkat cerita gue diterima. Gak usah ditanya lagi gimana rasanya. Satu hal yang gue pelajari adalah diakhir segala keberuntungan, pasti ada ketidak-beruntungan. Begitu juga dengan yang gue alamin, dan Facebook menjadi saksi atas segala yang tejadi. Lucu ya, kita bertemu dan merasakan semuanya lewat Facebook dan berakhir pula lewat Facebook. Mereka yang tidak tahu apa – apa mungkin hanya tertawa melihat semua yang terjadi seperti 2 orang remaja labil yang merasakan ‘Cinta’.

Dan gue juga tertawa jika menelaah semua dari awal, Tapi ya itu lah gue, dan cinta yang ngerubah gue menjadi orang lain. Semua yang gue lakuin bukan ‘gue banget’. Memang benar kata orang bijak, cinta bisa membuat kita lupa akan diri kita sebenarnya. Bukan pengalaman mencari jati diri, hanya ‘Lupa’ akan siapa diri kita sebenarnya.

Saturday, 8 February 2014

TENTANG FACEBOOK, MATEMATIKA DAN BOYBAND KOREA



Judul di atas sepertinya cukup mewakili semuanya. Facebook, Matematika, dan Boyband Korea. Agak banci memang, tapi emang bener sih *apasih

Dari Facebook awal pertama gue mengenalnya, dari Facebook pula gue mulai merasa ada yang berbeda darinya.

Rasa penasaran ngebawa gue untuk mencari tau asal usul anak kelas satu yang sering mundar mandir di depan kelas gue. Awalnya emang biasa aja, namun lama kelamaan menjadi luar biasa.. terima kasih klinik tongfang.

Hari itu menjadi hari yang bersejarah buat gue. Merasakan indahnya rasa penasaran dan kelamaan menjadi rindu yang mudah – mudahan tidak terlarang. Gue kagum setengah mati sama sikapnya, sampe – sampe pengen mati gara – gara nyebrang gak liat kanan-kiri. Tapi serius, cinta yang tumbuh karena sering bertemu kini mulai gue rasakan.

Gue pulang ke rumah, seperti biasa pikiran gue gak berhenti memikirkan apa yang harus gue lakuin selanjutnya untuk berkenalan dengan dia. Dari mulai menyapa dia saat mau ke kamar mandi, tapi takutnya dia udah kebelet dan pipis di celana saat gue ajak kenalan. Sampe nyewa penjahat bayaran buat nyopet dompetnya dan gue dateng sebagai pahlawan kepagian (karena kesiangan udah mainstream) melawan penjahat bayaran gue dan mengembalikan dompetnya secara romantis kayak di film – film lawas. Ekstrim abis.

Khayalan gue semakin absurd. Gue pikir gue harus berhenti berkhayal dan melakukan apa yang seharusnya dari dulu gue lakuin. Suatu hari gue tau kalo dia pulang naik angkot yang searah sama gue.

Oke, itu cara pertama gue.

Usaha demi usaha untuk bisa pulang bareng sama dia gak pernah berhasil. Maklum saat itu gue udah kelas 11 dan dia masih kelas 10, jadwal pulang kami berbeda. Alhasil gue pikir cara itu gak cocok dan makan waktu banget. Udah gitu ditambah makan hati karena gue gak berani nyapa langsung. Tambah lagi makan paru dan daun singkongnya banyakin ya ‘Da, sama es teh manisnya 1. Maklum, ngetiknya di restoran padang.

Gue berpikir keras, dimana gue berpijak, disitu gue bakaln mikirin cara yang tepat dan paling efesien. Hmm.. gue tiduran, pikiran gue masih melayang bagaikan terbang ke awan, ku terawang dalam ruang bayang – bayang kelam hiye hiye. Terlungkup, terlentang, terlungkup sambil terlentang pun sudah gue lakuin, namun hasilnya nihil. Akhirnya suatu kejadian aneh ada di depan gue. Tiba – tiba tv di kamar gue ngeganti channel sendiri *jeng - jeng* dan lo tau apa? Channel tv gue berubah menjadi ftv di sc*tv. fak. Gue sebenernya gak terlalu suka nonton ftv, namun kali ini gue coba mengerti dan mengambil hikmah dari tayangan yang gue tonton.
Ftv yang gue tonton ini sengaja gak gue kasih tau judul dan nama pemainnya (padahal emang gak tau). Namun gue ngeliat adegan si pemeran cowok yang ceritanya jadi orang kaya itu menabrak dengan sengaja tidak sengaja cewek kembang desa yang sok lugu dengan ekstrim. Bayangkan saja, ujung kakinya cuma di senggol sedikit, itu cewek langsung mental ke atas pohon..... di belakang gunung. Ini ftv apa film india sebenarnya?. Akhirnya mereka berkenalan dan hidup bahagia selama 2 jam. Kampungan abis.

Oke, itu cara kedua gue.

Esoknya gue berdiri menunggu di depan kelas. Menunggu dia ke kantin bersama temannya. Jantung gue terasa di pasangin bom tempel. Tapi sudah di defuse oleh tim police area B. Akhirnya dia turun, gue mengintai dengan sangat hati – hati. Gue berjalan perlahan seperti seorang ninja yang terkena hernia. Sudah sekitar 5 menit gue mengintai, pegel juga ternyata. Aksi yang akan gue lakuin begitu sangat menegangkan, maklum gue emang cupu abis orangnya. Gue bersiap, gue mengambil mobil jenazah punya sekolah, dan gue tabrak dia. Dan dia mental ke atas pohon di belakang gunung. Huahaha gue puas dan gue gak berhenti ngebayangin abis ini gue dan dia akan berkenalan dan hidup bahagia selama 2 jam.

Tadinya gue pikir gila gue keren banget, namun belakangan gue ngerasa goblok banget udah nabrak anak orang sampe ke belakang gunung. Padahal di jakarta gak ada gunung samasekali. Sebenernya ada sih tapi... ahsudahlah.

Gue pulang dan gue hampir menyerah dengan usaha bodoh gue ini. Gue tergulai lemas menuju tempat tidur. Terdiam cukup lama. Sampai akhirnya Facebook memberi gue alasan untuk tetap bertahan (asoy).

Kampret banget! Kenapa gue baru sadar. Bagai upil yang nyangkut di bulu hidung. Ada tapi tak terasa. Facebook memberikan jalan terang buat gue.


Dan Facebook adalah cara ketiga sekaligus cara terakhir gue
 


Tanpa basa-basi gue langsung buka laptop dan membuka celana Facebook. Gue mencari namanya di kotak pencarian. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Belum ketemu juga. Sampai pada pencarian ke 1.325.648 kali baru gue memastikan itu adalah akun Facebooknya doi. Huft.. gue lega banget karena emang udah kebelet dari tadi, sekaligus ada yang mengganjal karena waktu itu dia memasang foto profilnya dengan personel Boyband Korea. Fak. Tapi ganteng juga kalo diliat – liat (apa ini).

Secara waktu itu gue adalah Metalhead abis, jadi ya agak Shock sedikit lah. Tapi setelah gue pikir ya wajar aja sih kalo misalnya anak cewek jaman sekarang demen banget sama Boyband Korea. Tapi permasalahannya kenapa gak masang foto gue aja *loh

Akhirnya ya okelah gue kirim permintaan pertemanan ke dia. Dalam hati ku menunggu dalam lelah aku menunggu, aku menungguuu...
Diluar perkiraan gue, ternyata permintaan pertemanan gue di konfirmasi dalam hitungan hanya 2 jam. Horeee.. gue salto jungkir balik, gue keluar dan membanting laptop gue (kenapa gue bego banget).

Tanpa perasaan menyesal gue menyalakan obrolan, tidak lama dia pun menyalakan obrolan juga. Gue masih inget topik pertama yang gue bicarakan. Agak kampungan sih. Isinya begini kira – kira :

‘boyband korea mulu nih..’

‘hehehe iya ka’
‘ini kak alif ya?’

Fak. Diluar dugaan gue dia kenal sama gue. Sepertinya gue udah cukup membuat dia terpesona sebelum kita berkenalan.

‘hehe iya, kok tau sih’

‘iya, itu aku liat photo profilnya’

‘..............’

Gue jatoh setengah ngangkang dari bangku.

Tapi gapapa. Seenggaknya dia tau nama gue (padahal di sebelah photo profil ada nama lengkap gue). Katro abis.

***

Cerita – cerita bergulir lewat tangan – tangan yang sedang jatuh cinta. Setiap kata serasa membisikkan kalimat rindu yang perlahan menusuk dan tidak ingin lepas. Kita mungkin telah terlarut dalam perbincangan tanpa ujung. Tanpa ada seorang pun yang mengganggu.

Hari demi hari berlalu. Obrolan kita pun semakin jauh dari perbincangan awal. Kata
‘tidak kenal’ menjadi ‘mulai mengenal’ akan terus menjadi memori indah yang takkan terlupakan.

***

Bagaimana bisa gue yang gak terlalu peduli sama Facebook bisa sampe terus – terusan nungguin beranda sampai dia menyalakan obrolan?. Mungkin emang ketakutan yang selama ini gue ‘kutuk’ dan sering gue sindir di sosial media mengarah seperti boomerang yang kembali menyerang gue. Senjata makan tuan. Tuan makan nasi ulam pake tempe ditepungin.

Hari demi hari berlalu. Tanpa disadari kita sudah memberikan sinyal satu sama lain. Sore itu seperti biasa gue mantengin obrolan, menunggu dan menunggu. Anak Facebook abis. Cuma bedanya niat gue bukan cuma ngobrol biasa. Melainkan ngomong yang biasa orang yang tidak biasa orang lakukan yang bisa membuat orang biasa menjadi bisa buang air besar dengan lancar #apasih

‘kakak boleh minta nomer henpon kamu gak?’
Sent.

Satu menit gue tungguin kagak dijawab.

Lima menit gue tungguin belum dijawab juga.

65.493 menit kemudian akhirnya di jawab juga.

Gue hampir mati di tempat karena kelamaan nunggu. Belakangan gue tau rupanya dia sedang menjadi relawan palestina di jalur gaza. Pantesan.

‘emang buat apa kak?’

Wogh! Pertanyaan ini ada di salah satu buku ‘cara mendapatkan nomor henpon gebetan lewat pesbuk’ yang gue baca. Pilihan jawabannya cuma ada 3:

1. ya mau minta aja

2. buat koleksi

3. buat ditempel di tiang listrik dan dikasih tulisan ‘terima sedot WC’

Pilihan yang sulit.

Akhirnya gue putuskan untuk memilih pilihan gue sendiri. Karena belakangan gue tau kalo cara itu hanya berhasil jika kita berada di suatu daerah yang berbeda jauh. Sementara kelas gue dan dia cuma berjarak 5 langkah. Kayak lagu dangdut.

‘ya gpp sih, mau minta aja hehe’
(itu sama kayak nomor 1, kampret!)

‘oh, yaudah nih kak, 08xxxxxxxxx’
Nomornya sengaja gue gak tampilin, demi menjaga vripasi (iya Privasi. Kok nyolot sih!).

Lega sudah. Rasanya seperti baru buang air besar yang ditahan selama 3 minggu. Terlalu bersemangat ngedennya, karena di dalam kamar mandi sambil latihan jadi cheerleders untuk tim bola bekel.
Seperti biasa sore itu isi inbox Facebook gue terasa lebih indah daripada biasanya. Lebih enak untuk terus dibaca berulang – ulang. Walaupun barusan gue agak meringis baca pesan yang dulu pernah gue kirim. Mungkin karena saking katro’nya gue ditambah gombalan alay ala anak kelas 2 SMK. fak

Tapi serius. Dia udah menarik gue dari jurang ke-alay-an anak SMK menjadi lebih alay dari sebelumnya. Semacam ditendang dari belakang. But she is almost perfect. Gue hampir merasa sempurna kalo gue hanya ngobrol berdua sama kakeknya dia di chat facebook saat itu. Ibarat di medan perang, siapapun lawannya, gue udah menyiapkan segala amunisi untuk menghadapi lawan – lawan gue. Dan dia adalah amunisi yang bakalan gue jaga dan gak akan gue lepasin. Kecuali ada yang nawar sama Tamagochi taun 90-an. Mainan langka brow.

***

Kita melakukan percakapan yang lebih intens lewat sms. Dari mulai cuma ngeluarin jokes – jokes basi yang ngebuat dia ketawa maksa karena gak enak, sampe udah mulai ada janji – janji buat online bareng pas pulang sekolah. Agak geli memang, padahal gak ada yang kelitikin.

Facebook ngerubah cara pandang gue menjadi lebih positif sekaligus mematahkan logika dan usaha gila gue. Biasanya perkenalan yang baik akan bertahan lama. Dan kalaupun berakhir, akan berakhir dengan baik pula. Seenggaknya itu yang gue tau.